Siapa Figur Papua, Pers Independent | blog ini : ko cari | tulis
}

Sejarah OPM (Organisasi Papua Merdeka), Oleh: Dr. George Junus Aditjondro          

Senin, 04 Mei 2009

Silakan terbikan di :
Tanggal 28 Juli 1965 adalah awal dari gerakan-gerakan kemerdekaan Papua Barat yang ditempeli satu label yaitu OPM (Organisasi Papua Merdeka).
Lahirnya OPM di kota Manokwari pada tanggal itu ditandai dengan penyerangan orang-orang Arfak terhadap barak pasukan Batalyon 751 (Brawijaya) di mana tiga orang anggota kesatuan itu dibunuh. Picu "proklamasi OPM" yang pertama itu adalah penolakan para anggota Batalyon Papua (PVK = Papoea Vrijwilligers Korps ) dari suku Arfak dan Biak untuk didemobilisasi, serta penahanan orang-orang Arfak yang mengeluh ke penguasa setempat karena pengangguran yang tinggi serta kekurangan pangan di kalangan suku itu (Ukur dan Cooley, 1977: 287; Osborne, 1985: 35-36; Sjamsuddin, 1989: 96-97; Whitaker, 1990: 51).

Pada tanggal 14 Desember 1988, sekitar 60 orang berkumpul di stadion Mandala di kota Jayapura, untuk menghadiri upacara pembacaan "proklamasi OPM" serta "pengibaran bendera OPM" yang kesekian kali.

Peristiwa ini agak berbeda dari peristiwa-peristiwa serupa sebelumnya.
Soalnya, untuk pertama kalinya, bukan bendera Papua Barat hasil rancangan seorang Belanda di masa pemerintahan Belanda yang dikibarkan, melainkan sebuah bendera baru rancangan si pembaca proklamasi, Thomas Wanggai, yang dijahit oleh isterinya yang berkebangsaan Jepang, Ny. Teruko Wanggai.

Selain itu, Wanggai tidak menggunakan istilah "Papua Barat", seperti para pencetus proklamasi-proklamasi OPM maupun para pengibar bendera OPM sebelumnya, melainkan memproklamasikan berdirinya negara "Melanesia Barat". Kemudian, Thomas Wanggai sendiri adalah pendukung OPM berpendidikan paling tinggi sampai saat itu. Ia telah menggondol gelar Doktor di bidang Hukum dan Administrasi Publik dari Jepang dan AS, sebelum melamar bekerja di kantor gubernur Irian Jaya di Jayapura.

Dibandingkan dengan gerakan-gerakan nasionalisme Papua sebelumnya, gerakan Tom Wanggai mendapat perhatian yang paling luas dan terbuka dari masyarakat Irian Jaya. Sidang pengadilan negeri di Jayapura yang menghukumnya dengan 20 tahun penjara -- tertinggi dibandingkan dengan vonis-vonis sebelumnya untuk para aktivis OPM -- mendapat perhatian luas.

DENGAN segala pembatasan di atas, tonggak-tonggak sejarah mana yang paling penting untuk disorot? secara kronologis, ada lima tonggak sejarah yang paling penting dalam pertumbuhan kesadaran nasional Papua.

26 Juli 1965
Tonggak sejarah yang pertama adalah pencetusan berdirinya OPM di Manokwari, tanggal 26 Juli 1965. Gerakan itu merembet hampir ke seluruh daerah Kepala Burung, dan berlangsung selama dua tahun. Tokoh pemimpin kharismatis gerakan ini adalah Johan Ariks, yang waktu itu sudah berumur 75 tahun.

Sedangkan tokoh-tokoh pimpinan militernya adalah dua bersaudara Mandatjan, Lodewijk dan Barends, serta dua bersaudara Awom, Ferry dan Perminas. Inti kekuatan tempur gerakan itu adalah para bekas anggota PVK, atau yang dikenal dengan sebutan Batalyon Papua. Ariks dan Mandatjan bersaudara adalah tokoh-tokoh asli dari Pegunungan Arfak di Kabupaten Manokwari, sedangkan kedua bersaudara Awom adalah migran suku Biak yang memang banyak terdapat di Manokwari.(2) Sebelum terjun dalam pemberontakan bersenjata itu, Ariks adalah pemimpin partai politik bernama Persatuan Orang New Guinea (PONG) yang berbasis di Manokwari dan terutama beranggotakan orang-orang Arfak. Tujuan partai ini adalah mencapai kemerdekaan penuh bagi Papua Barat, tanpa sasaran tanggal tertentu (Nusa Bhakti, 1984; Osborne, 1989: 35-36).

1 Juli 1971
Empat tahun sesudah pemberontakan OPM di daerah Kepala Burung dapat dipadamkan oleh pasukan-pasukan elit RPKAD di bawah komando almarhum Sarwo Edhie Wibowo, "proklamasi OPM" kedua tercetus. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 1 Juli 1971 di suatu tempat di Desa Waris, Kabupaten Jayapura, dekat perbatasan Papua Niugini, yang dijuluki (Markas) Victoria, yang kemudian dijuluki dalam kosakata rakyat Irian Jaya, "Mavik".

Pencetusnya juga berasal dari angkatan bersenjata, tapi bukan seorang bekas tentara didikan Belanda, melainkan seorang bekas bintara didikan Indonesia, Seth Jafet Rumkorem. Seperti juga Ferry Awom yang memimpin pemberontakan OPM di daerah Kepala Burung, Rumkorem juga berasal dari suku Biak.

Ironisnya, ia adalah putera dari Lukas Rumkorem, seorang pejuang Merah Putih di Biak, yang di bulan Oktober 1949 menandai berdirinya Partai Indonesia Merdeka (PIM) dengan menanam pohon kasuarina di Kampung Bosnik di Biak Timur (Aditjondro, 1987: 122).

Sebagai putera dari seorang pejuang Merah Putih, Seth Jafet Rumkorem tadinya menyambut kedatangan pemerintah dan tentara Indonesia dengan tangan terbuka. Ia meninggalkan pekerjaannya sebagai penata buku di kantor KLM di Biak, dan masuk TNI/AD yang memungkinkan ia mengikuti latihan kemiliteran di Cimahi, Jawa Barat, sebelum ditempatkan di Irian Jaya dengan pangkat Letnan Satu bidang Intelligence di bawah pasukan Diponegoro.

Namun kekesalannya menyaksikan berbagai pelanggaran hak-hak asasi manusia menjelang Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969, mendorong ia masuk ke hutan bersama-sama para aktivis OPM dari daerah Jayapura sendiri.

Sebelumnya ia sudah membina hubungan dengan kelompok OPM pimpinan Herman Womsiwor, orang sesukunya, di Negeri Belanda. Atas dorongan Womsiwor, ia membacakan teks proklamasi Republik Papua Barat berikut dalam kedudukannya sebagai Presiden Republik Papua Barat dengan memilih pangkat Brigadir Jenderal:(3)

PROKLAMASI

Kepada seluruh rakyat Papua, dari Numbai sampai ke Merauke, dari Sorong sampai ke Balim (Pegunungan Bintang) dan dari Biak sampai ke Pulau Adi.
Dengan pertolongan dan berkat Tuhan, kami memanfaatkan kesempatan ini untuk mengumumkan pada anda sekalian bahwa pada hari ini, 1 Juli 1971, tanah dan rakyat Papua telah diproklamasikan menjadi bebas dan merdeka (de facto dan de jure ).
Semoga Tuhan beserta kita, dan semoga dunia menjadi maklum, bah-wa merupakan kehendak yang sejati dari rakyat Papua untuk bebas dan merdeka di tanah air mereka sendiri dengan ini telah dipenuhi.
Victoria, 1 Juli 1971
Atas nama rakyat dan pemerintah Papua Barat,
SethJafetRumkorem
(Brigadir-Jenderal)
3 Desember 1974

Dalam upacara pembacaan proklamasi itu, Rumkorem didampingi oleh Jakob Prai sebagai Ketua Senat (Dewan Perwakilan Rakyat?), Dorinus Maury sebagai Menteri Kesehatan, Philemon Tablamilena Jarisetou Jufuway sebagai Kepala Staf Tentara Pembebasan Nasional (TEPENAL), dan Louis Wajoi sebagai Komandan (Panglima?) TEPENAL Republik Papua Barat.

Imajinasi kartografis wilayah negara merdeka yang dicita-citakan oleh para aktivis OPM, tidak terbatas pada wilayah eks propinsi New Guinea Barat di masa penjajahan Belanda.Tiga tahun sesudah proklamasi di "Markas Victoria", imajinasi itu melebar sampai meliputi wilayah negara tetangga mereka, Papua Niugini. Pada tanggal 3 Desember 1974, enam orang pegawai negeri di kota Serui, ibukota Kabupaten Yapen-Waropen, menandatangani apa yang mereka sebut "Pernyataan Rakyat Yapen-Waropen", yang isinya menghendaki persatuan bangsa Papua dari Samarai (di ujung buntut daratan Papua Niugini) sampai ke Sorong, yang "100% merdeka di luar Republik Indonesia".

Sejak Februari 1975, lima di antara penandatangan petisi ditahan di Jayapura. Soalnya, salah seorang di antara penandatangan "proklamasi Sorong-Samarai" itu, Y. Ch. Merino, orang Biak yang sebelumnya adalah Kepala Kantor Bendahara Negara di Serui, pada tanggal 14 Februari 1975 kedapatan "bunuh diri" di Serui. Kabarnya dalam penggeledahan di rumahnya ditemukan uang kas negara sebanyak Rp 13 juta. Sesudah dua tahun ditahan di Jayapura, lima orang temannya yang masih hidup, di antaranya abang dari seorang alumnus FE-UKSW, diajukan ke pengadilan negeri Jayapura.

Pada tanggal 9 Maret 1977, kelimanya divonis delapan tahun penjara, karena tuduhan melakukan "makar". Ketika saya bekerja di Jayapura di awal 1980-an, saya berkenalan dengan salah seorang pencetus "proklamasi Sorong-Samarai", yang telah selesai menjalankan masa hukumannya, dan sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan konsultan transmigran sebagai tenaga penterjemah. Ia tidak mau berceritera tentang gerakan yang pernah dilakukannya (atau yang pernah dituduhkan kepadanya?).

26 April 1984
Pada tanggal ini, pemerintah Indonesia melakukan "sesuatu" yang justru semakin menumbuhkan kesadaran nasional Papua di Irian Jaya, yakni menciptakan seorang martir yang kenangannya (untuk sementara waktu) mempersatukan berbagai kelompok OPM yang saling bertikai. Pada tanggal itulah seorang tokoh budayawan terkemuka asal Irian Jaya, Arnold Clemens Ap, ditembak di pantai Pasir Enam, sebelah timur kota Jayapura, pada saat Ap sedang menunggu perahu bermotor yang konon akan mengungsikannya ke Vanimo, Papua Niugini, ke mana isteri, anak-anak, dan sejumlah teman Arnold Ap telah mengungsi terlebih dahulu tanggal 7 Februari 1984.

Arnold Ap yang lahir di Biak tanggal 1 Juli 1945, menyelesaikan studi Sarjana Muda Geografi dari Universitas Cenderawasih, Abepura (13 Km sebelah selatan kota Jayapura). Di masa kemahasiswaannya, ia turut bersama sejumlah mahasiswa Uncen yang lama dalam demonstrasi-demonstrasi di saat kunjungan utusan PBB, Ortiz Sans, untuk mengevaluasi hasil Pepera 1969.

Sesudah hasil Pepera mendapatkan pengesahan oleh PBB, tampaknya ia menyadari bahwa pendirian suatu negara Papua Barat yang terpisah dari Indonesia terlalu kecil kansnya dalam waktu singkat. Ia kemudian berusaha memperjuangkan agar orang Irian dapat mempertahankan identitas kebudayaan mereka, walaupun tetap berada dalam konteks negara Republik Indonesia.

Selain pertimbangan real-politik , pilihan Arnold Ap untuk memperjuangkan identitas Irian melalui bidang kebudayaan juga dipengaruhi oleh "modal alam" yang dimilikinya. Ia seorang seniman serba bisa yang berbakat. Selain mahir menyanyi, memainkan gitar dan tifa, menarikan berbagai jenis tari rakyat Irian Jaya, melukis sketsa-sketsa, ia juga mahir menceriterakan mop alias guyon-guyon khas Irian. Karena kelebihan-kelebihannya itu, Ketua Lembaga Antropologi Universitas Cenderawasih, Ignasius Soeharno, mengangkat Arnold Ap menjadi Kurator Museum Uncen yang berada di bawah lembaga itu.

Dalam kapasitas itu, ia sering mendapat kesempatan mendampingi antropolog-antropolog asing yang datang melakukan penelitian lapangan di Irian Jaya. Kesempatan itulah yang dimanfaatkannya untuk melakukan inventarisasi terhadap seni patung, seni tari, serta lagu-lagu dari berbagai suku yang dikunjunginya (Ap dan Kapissa, 1981; Ap, 1983a dan 1983b).

`Dalam kedudukan sebagai kepala museum yang diberi nama Sansakerta, Loka Budaya , ia mengajak sejumlah mahasiswa Uncen mendirikan sebuah kelompok seni-budaya yang mereka namakan Mambesak (istilah bahasa Biak untuk burung cenderawasih).(4) Kelompok ini didirikan tanggal 15 Agustus 1978, menjelang acara 17 Agustus, sebagai persiapan untuk mengisi acara hiburan lepas senja di depan Loka Budaya. Selain Arnold, para "cikal-bakal" Mambesak yang lain adalah Marthin Sawaki, Yowel Kafiar, dan Sam Kapisa, yang masih berkuliah di Uncen waktu itu (IrJaDISC, 1983).

Ternyata, respons masyarakat Irian -- baik orang kota maupun orang desa, orang kampus maupun orang kampung -- terhadap karya kelompok Mambesak ini cukup besar. Lima volume kaset Mambesar berisi reproduksi -- dan juga, rearrangement -- lagu-lagu daerah Irian Jaya, berulang kali habis terjual dan diproduksi kembali. Siaran radio Pelangi Budaya dan Pancaran Sastra yang diasuh oleh Arnold Ap dkk di Studio RRI Nusantara V setiap hari Minggu siang, cukup populer. Apalagi karena di selang-seling siarannya, lagu-lagu rekaman Mambesak selalu diputar. Lagu-lagu itu bahkan pernah saya dengar di Pegunungan Bintang dari siaran radio negara tetangga, Papua Niugini, yang sedang dinikmati oleh seorang penduduk asli suku Ok.

Berarti, dengan pelan tapi pasti, suatu gerakan kebangkitan kebudayaan Irian sedang terjadi, dimotori oleh Arnold Ap dari kantornya di Loka Budaya Universitas Cenderawasih. Sebagai kurator museum dan penasehat pusat pelayanan pedesaan yang saya pimpin waktu itu, IrJa-DISC, ia juga sangat akrab berkomunikasi dengan tokoh-tokoh adat serta seniman-seniman alam yang asli Irian. Tampaknya, popularitas Arnold Ap dengan Kelompok Mambesak-nya itu kemudian membangkitkan kecurigaan aparat keamanan Indonesia, bahwa gerakan kebangkitan kebudayaan Irian itu hanyalah suatu "bungkus kultural" bagi "bahaya laten" nasionalisme Papua.

Walhasil, Arnold mulai berurusan dengan aparat keamanan di Jayapura. Tapi karena tak dapat dibuktikan bahwa ia melakukan sesuatu yang "subversif" atau bersifat "makar", ia tak dapat ditahan. Apalagi kaset-kasetnya, atas saran Arnold, diputar di kampung-kampung di perbatasan Irian Jaya - Papua Niugini, untuk mengajak para gerilyawan OPM keluar dari hutan dan pulang ke kampung mereka.

Keadaan itu berubah drastis di penghujung tahun 1983, ketika pasukan elit Kopasandha yang ditugaskan di Irian Jaya, berusaha membongkar seluruh jaringan simpatisan OPM yang mereka curigai ada di kampus dan di instansi-instansi pemerintah di Jayapura, dan menumpasnya once and for all. Arnold dianggap merupakan "kunci" untuk membongkar jaringan "OPM kota" itu. Mengapa Ap? Karena ia juga dicurigai menjadi penghubung antara aktivis OPM di hutan dengan yang ada di kota, yang memungkinkan para peneliti asing bertemu dengan Jantje Hembring, tokoh OPM di hutan Kecamatan Nimboran, Jayapura, dan juga membiayai pelarian seorang dosen Uncen, Fred Hatabu, SH, bersama bekas presiden Republik Papua Barat, Seth Jafet Rumkorem ke PNG, dari hasil penjualan kaset-kaset Mambesak.

Walhasil, pada tanggal 30 November 1983, Arnold ditahan oleh satuan Kopassanda yang berbasis di Jayapura. Sebelum dan sesudahnya, sekitar 20 orang Irian lain, yang umumnya bergerak di lingkungan Uncen maupun Kantor Gubernur Irian Jaya, juga ditahan untuk diselidiki aspirasi politik dan kaitan mereka dengan gerilya OPM di hutan dan di luar negeri. Penahanan tokoh budayawan Irian yang di media cetak Indonesia hanya dilaporkan oleh harian Sinar Harapan dan majalah bulanan Berita Oikoumene , segera mengundang kegelisahan kaum terpelajar asli Irian di Jayapura maupun di Jakarta.

Walaupun penahanannya dipertanyakan oleh Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) maupun teman-teman Arnold yang lain di Jayapura dan di Jawa, sampai awal 1984(5) tak tampak tanda-tanda bahwa ia akan diajukan ke pengadilan. Ia hanya dipindahkan dari tahanan Kopassandha ke tahanan Polda.

Seorang teman Arnold yang juga anggota inti Kelompok Mambesak, Eddy Mofu, malah mendadak juga ikut ditahan bersamanya.

Ketidakjelasan status sang budayawan Irian ini, menambah keresahan kawan-kawannya di Jayapura dan Jakarta. Kegelisahan mereka akhirnya mendorong dua peristiwa pelarian politik ke luar negeri. Di Jayapura, pada tanggal 8 Februari 1984, puluhan teman dan simpatisan Arnold Ap melarikan diri ke Vanimo dengan menggunakan perahu bermotor. Dalam rombongan itu termasuk isteri Arnold, Corry, bersama tiga orang anaknya yang masih kecil serta bayi di dalam kandungannya.

Sementara itu di Jakarta, empat pemuda Irian -- Johannes Rumbiak, Jopie Rumajau, Loth Sarakan, dan Ottis Simopiaref -- yang mempertanyakan nasib Arnold ke DPR-RI, akhirnya terpaksa minta suaka ke Kedutaan Besar Belanda, setelah mereka ketakutan akibat dicari-cari oleh aparat keamanan di tempat penginapan mereka (Kobe Oser, 1984).

Di tengah-tengah gejolak politik beginilah, "tawaran" kepada Arnold dkk untuk melarikan diri dari tahanan Polda guna menyusul keluarga dan kawan-kawan mereka di Vanimo, tampaknya sangat menggiurkan. Celakanya, tawaran itu tampaknya hanyalah suatu jebakan, yang berakhir dengan meninggalnya sang budayawan di RS Aryoko, Jayapura, tanggal 26 April 1984 (Osborne, 1985 dan 1987: 152-153; Anon., 1984 dan 1985; Ruhukail, 1985).

Sekitar lima ratus orang ikut mengantar jenazah sang seniman ke tempat peristirahatannya yang terakhir di pekuburan Kristen Abe Pantai, berdampingan dengan makam sahabat dan saudaranya, Eddy Mofu, yang sudah meninggal pada hari pertama pelarian mereka dari tahanan pada hari Minggu Paskah, 22 April 1984.

Kematian sang seniman ikut melecut arus pengungsi tambahan ke Papua Niugini. Sementara mereka yang sudah lebih dahulu lari ke sana, ikut memperingati kematian teman mereka, sambil menghibur sang janda, Corry Ap.

Kematian budayawan asli Irian ini menambah simbol nasionalisme Papua, karena berbagai fraksi OPM di luar negeri, berlomba-lomba mengklaim Arnold Ap sebagai orang yang diam-diam menjadi "Menteri Pendidikan & Kebudayaan" mereka di dalam kabinet bawah tanah OPM di Irian Jaya. Ada yang juga menyebut sang seniman adalah seorang "konoor modern", merujuk ke para penyebar kabar gembira dalam mitologi mesianistik Biak, Koreri (Osborne, 1987: 149).

Namun selang beberapa tahun, legenda itu mulai pudar. Lebih-lebih karena para penerus Kelompok Mambesak yang masih tetap bernaung di bawah kelepak sayap museum Uncen, tak ada yang mampu (atau berani?) menghidupkan kembali peranan kelompok senibudaya itu menjadi ujung tombak kebangkitan kebudayaan Irian.

Sedangkan di Negeri Belanda, ke mana isteri dan anak-anak Arnold Ap diizinkan mengungsi oleh pemerintah Papua Niugini, kelompok-kelompok OPM mencoba memproyeksikan jandanya, Corry Ap, bagaikan figur Corry Aquino yang juga kehilangan suaminya karena keyakinan politik sang suami, Benigno ("Ninoy") Aquino. Namun Corry Ap bukan Corry Aquino, dan setelah bosan dengan usaha-usaha politisasi dirinya, janda sang seniman menarik diri dari kehidupan publik dan membatasi peranannya (yang sudah cukup berat) sebagai ibu, ayah, dan pencari nafkah, bagi keempat orang anak laki-lakinya di negeri yang tak selalu ramah terhadap para migran berkulit hitam.

14 Desember 1988
Seperti yang telah disinggung di depan, "proklamasi dan pengibaran bendera OPM" yang dilakukan Tom Wanggai di stadion Mandala, Jayapura, sangat berbeda dari pada berbagai proklamasi dan pengibaran bendera OPM sebelumnya. Tampaknya cendekiawan asli Irian asal Serui ini, sudah berpamitan dengan (sebagian besar) bekal historis OPM yang sebelumnya.

Bendera "Melanesia Barat" yang dikibarkannya, berbeda dari bendera "Papua Barat" yang sebelumnya.

Konon menurut ceritera, bendera "Papua Barat" yang sebelumnya, termasuk yang dikibarkan Seth Jafet Rumkorem di Markas Victoria pada tanggal 1 Juli 1971, dirancang oleh seorang bangsa Belanda yang lazim dipanggil "Meneer Blauwwit", mertua tokoh OPM tua di Belanda, Nicholaas Jouwe. Ketiga warnanya -- merah, putih, dan biru -- meniru ketiga warna bendera Belanda.

Sedang ke-13 garis warna putih dan biru, menandakan ke-13 propinsi dalam negara Papua Barat yang akan dibentuk, seandainya Soekarno tidak segera mengintervensi dengan Tri Komando Rakyatnya. Hanya bintang putih di atas landasan merah di bendera Papua Barat itu memberikan unsur "pribumi" pada bendera Papua Barat ciptaan Belanda itu. Itulah bintang kejora, sampari dalam bahasa Biak, yakni lambang kemakmuran yang akan datang dalam mitologi Koreri.

Juga "lagu kebangsaan" OPM berjudul "Hai Tanahku, Papua", yang sering dinyanyikan dalam upacara-upacara OPM, adalah ciptaan seorang Belanda, Pendeta Ishak Samuel Kijne. Nama pendeta seniman itu diabadikan dalam STT GKI Irja di Abepura. Tampaknya, lagu kebangsaan lama itu pun sudah ditinggalkan oleh Tom Wanggai. Sedangkan "wawasan nasional" atau wilayah negara merdeka yang dicita-citakannya juga tidak lagi terbatas pada wilayah Papua Barat yang diancang-ancang oleh Belanda dan diresmikan oleh Rumkorem.

BEGITULAH lima tonggak sejarah dalam evolusi nasionalisme Papua atau Melanesia Barat di Irian Jaya.

Pertanyaannya sekarang: apakah nasionalisme Papua yang sudah tumbuh-kembang selama seperempat abad, yang berhasil diremajakan dari generasi ke generasi, dengan pelebaran variasi profesi dan peningkatan tingkat pendidikan mereka yang tampil memimpin, akan pudar? Ataukah nasionalisme Papua ini akan bertumbuh semakin kuat? Setidak-tidaknya, terus bertahan melalui proses peremajaan aktor-aktornya? Lalu, kalau melihat bukti-bukti historis yang ada, nasionalisme Papua semakin kuat, bagaimana sebaiknya jawaban orang-orang Indonesia (yang lain)? Apakah jawabannya harus selalu lewat peluru, ataukah lewat kotak suara?Solution by bullet , or solution by ballot ? Selain itu, apakah kita harus terus meniru politik pasifikasi Belanda, dengan hanya membalik orientasi geografisnya? Di zaman Belanda, para pejuang kemerdekaan Hindia Belanda yang dianggap "berbahaya" dibuang ke Irian, sementara sekarang, para pejuang kemerdekaan Irian Jaya yang juga dianggap semakin berbahaya, dilihat dari vonis hukumannya yang meningkat dari tujuh ke 20 tahun, dibuang ke Kalisosok dan penjara-penjara lain di Jawa. Sudah betul, bijaksana, dan etiskah reproduksi politik Belanda yang demikian?

Baca ini juga

Terima kasih atas kunjungan anda, jika ada pertanyaan bisa hubungi saya di : amoyogi@gmail.com.
Silakan tinggalkan pesan setelah anda membaca, jangan lupa....!!!

52 komentar:

Anonim mengatakan...

Salam.
Saya, Ckristian, alamat email, ckristianabaa@gmail.com., dapatkah menerbitkan tulisan saudara dalam Majalah Kristen Bulanan, Majalah Lonceng kami. Apabila tulisan ini belum pernah dimuat dalam media lain, alangkah baiknya dapat dibaca secara jelas oleh semua warga Papua. Sebagai sebuah kasanah rasionalitas atas pengalaman masa lalunya. Kalau dapat pada happy ending dari tulisan ini diberikan solusi bagi masyarakat Papua, dan pemerintah Indonesia. sebagai upaya mediasi dan rekonsiliasi.

Terima kasih
Puspenka Sentani

MASJID NURROHIM CIREBON mengatakan...

saya orang jawa tidak tahu apa yang terjadi disana, saya sedih sekali, mudah mudahan kalian diberi kekuatan tanpa ada pertumpahan darah

Yeremia Mus Mesak Ndaumanu mengatakan...

Saya sudah lama tinggal di Papua, tapi saya baru tau tentang sejarah OPM ini, saya memang tidak tau terlalu banyak, tetapi mudah-mudahan masalh ini dapat diselesaikan dengan damai tanpa harus ada banyak korban yang berjatuhan lagi. AMIN....

Anonim mengatakan...

OPM harus dibasmi dr bumi papua.....opm cap babi ngepet kriting bau babi dekil

Kasih itu Sabar .... mengatakan...

Hanya Tuhan saja yang Tahu Kebenarannya. Semoga Tuhan memberi jalan yang terbaik bagi Kita Semua, Amin.

yongki mengatakan...

Sebaiknya..papua menetukan nasib mereka..jangan hasil bumu lari semua ke jawa yang membuat politik menguntungkan diri sendiri mereka sangat halus dan menikam merdeka...papua

Anonim mengatakan...

harga mati NKRI no Papua Barat...Papua Hasil jerih payah/hasil perjuangan Indonesia.. basmi OPM,,pengacau Ketemraman..g bisa bekerja..g pake baju kamu klo bukan orang indo..Hidup NKRI..

Anonim mengatakan...

poncy agimuga ........... papua bangkit dan hidup kembali sbg pempimpin republik ini sadar akan papua berikan pelayanan di segala sektor untuk kehidupan yang layak saya sedih melihat kondisi seperti ini pemerintah pusat dan daerah segera mencari solusi untuk papua

abuy mengatakan...

TIDAK DIMANA-MANA,KITA SEMUA ORANG TAU ,PEJABAT TIDAK ADA KERJA BAGUS.WLAUPUN ADA BENAR NANTI DIA BISA DPAT SUSAH DAN KENA TENDANG SAMA TEMAN.ORANG MCAM INI YG BUAT SUSAH PAPUA. COBA CARI ORANG YG BISA KRJA BAGUS BUAT PAPUA, BUAT KAYA PAPUA, BUAT MAKMUR PAPUA, BIAR TIDAK ADA LAGI RIBUT-RIBUT DAN MATI BANYAK-BANYAK.

tukang roti mengatakan...

Pingin aman kerja cr duit nyaman demi sesuap nasi.. jangan ganggu kami...

Anonim mengatakan...

Merdeka itu pilihan. Dalam konteks NKRI banyak sekali manusia Indonesia yang muak dengan kepemimpinan di Negeri yang sulit memakmurkan rakyatnya. Saya minim pengetahuan mengenai gerekan kemerdekaan Papua Barat atau Malanesia. Namun tulisan ini menarik apalagi kalu ini juga ditambahkan dengan latar belakang lahirnya gerakan ini selain dari kronologis sejarah teekait alasan, tujuan, ideologi, dan faktor lainnya.

Rony saban mengatakan...

Jangan terlaluy terpukau oleh sejarah.. tapi bukan berarti harus melupakan sejarah.. namun alangkah bijaknya bila jujur pada hati nurani... " Benarkah perjuangan ini demi kemakmuran bersama ? atau ambisi untuk keakuan diri dengan alasan penindasan ? " Pada kenyataan yg tdk bisa dipungkiri.. bgitu banyak PIMPINAN PEMERINTAHAN daerah yg berdarah asli PAPUA tidak perduli bahkan menindas rakyat papua sendiri.. dan lebih jahat daripada LINTAH yg menghisap darah saudara2 papua-nya... ironisnya mereka tetap dipuja-puji bagai TUHAN !!! Mungkinkah Rakyat Papua mencoba merenung kembali..dan menimbang lagi... Untuk memberi kesempatan kepada suku lain selain papua yang benar2 mencintai papua untuk menjadi pemimpin dalam pemerintahan2 ditanah papua tercinta ini...
" berhati-hatilah saudara-saudaraku setanah papua.. jangan dibodohi oleh rayuan dan janji2 dari bangsa asing yg serakah melihat kekayaan tanah papua ..dan kerukunan berbagai macam suku di indonesia yg hidup rukun ditanah papua. bersatu itu lebih baik daripada terpecah-pecah lalu tertindas bangsa lain seperti sejarah masa lalu kita yg kelam... salam sejahtera saudara-saudaraku ditanah papua.. TUHAN SELALU MEMBERKATI KITA SEMUA... MEMBERKATI TANAH PAPUA INI.. JANGAN ADA LAGI PERTUMPAHAN DIANTARA PERSAUDARAAN KITA... AMIN
LOVE PAPUA : ESAU RONY SABAN WAYOI (Jawa-Serui)

rahardian saka mengatakan...

saudara saudara papua..sekiranya jangan membenci Indonesia dalam pergerakan kita,karena Indonesia adalah jiwa kita,kebanggaan kita,dan jati diri kita.tetapi yang harus kita lawan adalah pemerinahan yang busuk.melawan tindakan kapitalis para penguasa.kami yg dijawa juga membenci pemerintahan saat ini.hanya bisa bicara tetapi kinerja 0.mari,kita melawan pemerintahan bukan dengan cara membuat pemerintahan baru.tetapi dengan cara yang lebih damai.entah dalam bidang pendidikan,ekonomi,budaya,dan sosial. biarlah NKRI selalu harga mati bagi kita.karena kita semua bersaudara bukan?saudara dalam Indonesia,saudara dalam Tuhan.Tuhan YESUS memberkati...

Anonim mengatakan...

Penangangan masalah papua harus ditangani dengan melihat ke akar permasalahan dan latar belakang yang menyebabkan orang papua ingin memisahkan diri. Bukan dengan tindakan represif, seperti menembaki gerakan separatis. Aparat jangan terpancing oleh jebakan ini. Karena apabila penembakan dilakukan terus-menerus terhadap orang kelompok separatis, dikhawatirkan nantinya akan terjadi kejahatan genocide, yaitu pemusnahan terhadap satu suku, ras dan kelompok. Sejak berdirinya gerakan separatis di Papua, sudah banyak ras papua yang tewas. Nantinya kejahatan genocida ini dapat mereka laporkan ke Internasional Crminal Court (Mahkamah Pidana Internasional) di Deen Haag Belanda.

indonesia satu mengatakan...

hidup harus menemukan jati dirinya. bukan berarti melepaskan dirinya. jadilah orang pintar dan mengalahkan pemerntahan yang busuk ini. untuk papua kita tetap indonesia

viki mengatakan...

Bersabarlah para sahabatku di papua, kita tahu mungkin ada sebagian opnum yang memanfaatkan tragedi - tragedi yang baru - baru ini. mungkin kita sedang diadu domba. ingat lah, ketika patih gajah mada mengangkat sumpah. sesungguhnya kita adalah satu, satu nusa, satu bangsa. dari sabang sampai merauke ,semua nusantra kita tercinta. semoga kita semua bisa segera menemukan titik terang dari kelam - kelam yang selalu menyelimuti kita semua.

LOVE PAPUA :)

N'JOSZ mengatakan...

Saya adalah orang indonessia,siapa yg gk ingin memerdekakan diri jk pemerintah ini sama saja dg penjajah spt dulu?iblis bertopeng malaikat!!!!!berjuanglah saudaraku d papua Insyaallah perjuangan harta dan darah kalian berharga demi masa depan papua,jngan seperti pemerintah yg sekarang banyak yg korupssi,tegakkan asppirassi massyarakat papua merdekalah dan terus berjuang saya mendukung saudara2ku d papua sana

liza.blog83 mengatakan...

Saya berdarah Batak - Papua....
walaupun saya tidak pernah pulang ke papua
aku masih papua....
bersabarlah saudara ku....pasti akan ada jalan terbuka untuk kita anak papua...

beni frangklin mengatakan...

saya dari kota ombak sarmi berikan yang terbaik dari perjuangan mu semoga Tuhan Yesus Kristus memberkati Papua yang merdeka. Akhir Kata Merdekalah Tanahku Papua Yang Kaya.Malaikat Kecil Bravo "99

Anonim mengatakan...

Papua merdeka!

Samuel mengatakan...

Alangkah indah bila masalah ini diselesaikan dengan kepala dingin... Duduk bersama saling bermusyawarah... Papua adalah bagian tak terpisahkan dari NKRI. Orang Papua adalah bagian yang tak terpisahkan dari Bangsa Indonesia.
God bless Papua, God save Indonesia.
samuelonkywijaya@gmail.com

Anonim mengatakan...

NKRI sudah final, tinggal bagaimana pemerataan pembangunan SDM dan eksplorasi SDA untuk kesejahteraan rakyat. Berpikir kritis pada pemerintah boleh tapi jangan sampai ada niatan berpisah dari NKRI. Kami dari Kalimantan juga berpikir kritis terhadap pemerintah tapi tidak pernah ada niat untuk berpisah dengan NKRI...

Anonim mengatakan...

NKRI harga mati...basmi habis OPM teroris pengacau keamanan...jangan dikasih hati...jangan sampai kasus pisahnya Timor Timur dari pangkuan ibu pertiwi tejadi lagi...

Anonim mengatakan...

"Bangsa ini akan bangkit memimpin dirinya sendiri..." Pdt. I.S. Kijne

Anonim mengatakan...

ONE PEOPLE,ONE SOUL
HAI PAPUAN WAKE UP AND FIGHT
BE BLESS.

Anonim mengatakan...

papua sdh dbrikan prcobaan untk mnentukn nasib mrk sndri dgn cr pmekaran & otsus yg luar biasa. pr pjabat d papua jg org papua sndri, yg mnglola dana otsus jg org papua sndr. tp cb lht apa yg trjdi, apakah brjln dgn baik? kmudian mrk mnyalhkan pmrntah pst krn otsus tdk tersalurkn dgn baik.. kl mrdk< keadanny tdk akan lbh baik dr skrg.

Anonim mengatakan...

klo memang para pemimpin papua yg katanya memperjuangkan kemerdekaan papua itu bener2 berjuang demi kemerdekaan papua kenapa mereka tidak mau mengangkat senjata untuk berjuang bersama2 OPM dan bergerilya di hutan papua.???
coba kalian pikir,, mereka malahan pergi dari papua dan enak2an tinggal di australia dan belanda...apa mereka tau dan lihat kalau papua menderita padahal mereka foya2 di negeri orang tanpa memikirkan papua....

Anonim mengatakan...

CEPAT ATAU LAMBAT PAPUA PASTI MERDEKA

Anonim mengatakan...

kita harus tahu bahwa untuk memperjuangkan suatu bangsa merdeka bukan hanya lewat Front bersenjata saja melain Front Diplomatik dan Resistensi atau pejuang dalam kota. untuk mewujudkan kemerdekaan sebagaimana diimpikan harus tetap solid dan menghindar dari politik Devide et impera. kemerdekaan adalah hak kita sebagai manusia. hidup tanpa kebebsan lebih baik mati

Anonim mengatakan...

Kami bosan dengan korupsi yg ada di Indonesia...

Anonim mengatakan...

Sekarang ini negara negara maju malah sedang berusaha untuk saling menggabungkan diri supaya makin kuat. Ini malah mau berpisah, jangan lah bung, jangan mudah pesimis dengan pemerintahan Indonesia, kita negara yang belum lama merdeka (dibanding negara maju lain) tapi ekonomi kita akan trus bertumbuh. Cepat atau lambat pembangunan akan sampai ke papua, kalau sudah begitu apa yang dikuatirkan lagi, makanya mari kita usaha bersama memajukan Indonesia, memajukan Papua.

Ebby Thesia mengatakan...

I LOVE PAPUA

saya yakin suatu saat nanti, apa yang di impi-impikan oleh seluruh rakyat papua yaitu kemerdekaan! akan segera terjadi.....!!

Tuhan Memberkat seluruh rakyat papua,,,,
Tuhan memberkat Tanah ku papua..

febbyHanaThesia_sorong papua barat

Anonim mengatakan...

yang ingin papua merdeka pasti KRISTEN
dari dulu track record yang nulis ini tak senang melihat kejayaan Indonesia

semua tulisannya selalu bersifat memprovokasi menggerogoti Indonesia

Yely Lod mengatakan...

Kami tidak benci Indonesia tp org Indonesia benci kami dalam hal ini pemerintah(TNI-POLRI, KOPSUS, DENSUS 88) dan lain2. Kami merasa tidak ada masa depan dengan saudara2. Smoga saudara2 juga hidup makmur tanpa kami org Papua Barat. Assalamualaikum

Anonim mengatakan...

itu hanya segelintir orang yang memanfaatkqn situasi,sebenarnya kebanyakan orang papua sendiri tidak senang dengan adanya opm,org pom itu hanya di manfaatkan oleh tokoh2 asing dan di janjikan jabatan yang tinggi setelah papua merdeka,coba kita liat di timor2 dari penjabat militernya,gubernurnya semuanya dari jebolan gpk...jd apapun itu yang mengancam NKRI harus d basmi sampai ke akar2nya

Anonim mengatakan...

PUSING AQ MEMIKIRKAN POLITIK,,,MAU DI PAPUA ATAU JAWA SAMA SAJA PEMBANGUNAN TAK MERATA,,,YANG MERATA CUMA JABODETABEK,,,,YANG PENTING HATI SELALU MERDEKA DALAM LINDUNGAN TUHAN YANG MAHA ESA,,,,FUCK POLITIK,,,YES WOMEN,,,!!!

rizal q mengatakan...

OPM hayalah penipu rakyat papua,jikalau tak ada mereka pasti bumi papua akan aman damn tanpa gejolak hingga sekarang

Anonim mengatakan...

Pemerintah segera lakukan operasi bakti sosial dan kemanusiaan serta operasi kontra intelejen yang mereka lakukan untuk melepas Papua barat dari tangan indonesia, NKRI harga mati apapun resiko nya. ganyang imperialisme barat dan konco konco nya. waspadai Australia dan Marinir as di darwin dan kokos.

TOMAS GOBAI,PANIAI mengatakan...

mantap benner. . komentar teman namanya anto jaya. kemaring saya buka internet di blog ini. saya baca komentarnya . ngakunya sering di bantu anka ritual sama AKI AMARI. . . apaitu benneran..?? awalnya saya kurang percaya .. tapii.. dari pada saya penasaran. saya menhubungi nomer 085217507599 yang ada tercantum di komentar beliau . ternyata nomer ini punya aki amari...... alhamdulillah waktu itulah saya juga mencoba beranikan diri meminta bantuan angka ritual sama aki AMARI. jadi bisa sukses sampai sekar....ang.kunjungi blok AKI http://akiamari.org terima kasih komentarnya shobattt

PERNANDU,DOGIYAI mengatakan...

mantap benner. . komentar teman namanya pak thomas . kemaring saya buka internet di blog ini. saya baca komentarnya . ngakunya sering di bantu anka ritual sama AKI AMARI. . . apaitu benneran..?? awalnya saya kurang percaya .. tapii.. dari pada saya penasaran. saya menhubungi nomer 085217507599 yang ada tercantum di komentar beliau . ternyata nomer ini punya aki amari...... alhamdulillah waktu itulah saya juga mencoba beranikan diri meminta bantuan angka ritual sama aki AMARI. jadi bisa sukses sampai sekar....ang.kunjungi blok AKI http://akiamari.org terima kasih komentarnya shobattt

Anonim mengatakan...

sebenarnya ada benarnya, papua ingin merdeka karena mungkin tidak puas dengan kepemerintahan RI, bayangkan saja di RI banyak kefatalah politik seperti korupsi sedangkan kesejahteraan rakyat di papua-pun terabaikan makanya papua ingin merdeka sendiri, sedangkan TNI malah menembaki orang-orang yang sebenarnya tidak bersalah (warga sipil) padahal / mungkin pribumi papua yang sudah bersekolah tahu bahwa hasil buminya diambil oleh orang lain, bayangkan saja tambang emas terbesar no 3 itu bukan punya orang papua asli melainkan punya AS, makanya tidak salah juga kalau OPM itu memperjuangkan negaranya betul tidak ???

Anonim mengatakan...

Papua pasti merdeka, dengan kekayaan alam yg Melimpah papua mampu untuk membangun negara sendiri. Papua memang berhak untuk merdeka Dan bebas dari nkri. Indonesia mementingkan wilayah jawa saja dan tidak membangun daerah papua jadi wajar saja kalau papua mengiginkan kemerdekaan. Saya juga baru sadar kalo pembangunan wilayah sebagian besar hanya di jawa saja, sedangkan di daerah lain sangat sedikit seperti di papua. Katanya indonesia akan memberi keadilan bagi seluruh rakyat indonesia(seperti tertulis dipancasila ke5: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia). Tapi tidak terbukti kalo indonesia itu adil.

BERBAGI TOGEL mengatakan...

SAYA ATAS NAMA PAK ANDIKAH DI JAYAPURA MEGUCAPKAN BANYAK TRMH KSH KEPADA KI AMARI KRN ANGKA YG D'BRKAN 4D/[8695] BNR2 TMBS 100% DAN SYA SDH BSA BKA USHA KECIL2LAN BRKT BNTUAN KI AMARI JIKA ANDA INGIN SEPERTI SY HBG KI AMARI DI NO:( _085321754544_) ATAU KUNJUNGI WAPSITE KI AMARI KLIK http://akiamari.org BLA INGIN MENGUBAH NSIB TRMAH KASH

Anonim mengatakan...

gmana bisa lepa, orang pimpinannya aja cari duit di pemda,cari sendiri dong,jangan makan dari indonesia cuk

filemon duwitau mengatakan...

HARGA MATI PAPUA HARUS MERDEKA!!
Perjuangan rakyat Papua untuk memperoleh kemerdekaan dan kebebasan sebagai manusian yang bebas tanpa tekanan dari bangsa atau orang lain yang diperjuangkan oleh rakyat Papua baik di masa lalu, sekarang, besok dan seterusnya tidak akan ada titik terakhir sebelum memperoleh kemerdekaan yang selayaknya sebagai manusia yang merdeka di atas tanah leluhurnya. Dan sebelum memperoleh kemerdekaan sebagai manusia yang merdeka di atas tanah leluhurnya maka perjuangan rakyat Papua tidak akan berakhir dan akan terus berkelanjutan.
Meskipun Nicholas Jouwe yang mengakui bahwa dirinya adalah tokoh pendiri OPM dan pejuang kemerdekaan Papua yang lama bermukim di Belanda sejak tahun 1969 kini telah pulang kembali ke Papua, setelah tiba di Papua bulan maret 2010 lalu, mengatakan bahwa kemerdekaan Papua hanyalah sebuah mimpi. Namun kemerdekaan Papua itu bukanlah sebuah mimpi yang tidak akan menjadi sebuah kenyataan tetapi itu merupakan harga mati Papua harus memisalahkan diri dari NKRI sebagai bangsa yang merdeka, tanpa ada tekanan dari bangsa atau Negara lain.

Dalam fakta Sejarah bangsa Indonesia juga membuktikan bahwa daerah wilayah Papua tidak termasuk dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia atas beberapa sebab yaitu :
1). Negara wilayah Papua Barat telah menjadi bagian dari Kerajaan hindia Belanda pada tanggal 7 Maret 1910 dan tidak lagi menjadi bagian dari kerajaan hindia Belanda yang berkedudukan di Batavia atau Jakarta, selama 350 tahun atau tiga setengah abad.
2). Pada tanggal 23 agustus 1956 dalam perubahan UUD Belanda, tanah Papua atau New Guinea telah menjada bagian dari kerajaan hindia Belanda.
3). Berdasarkan pidato presiden Soekarno yang sebagai Presiden Republik Indonesia di depan sidang umum BPUPKI dan PPKI pada tanggal 19 juli 1945, bahwa Indonesia hanya merdeka meliputi sabang atau Aceh sampai dengan Amboina atau Maluku. Dan tidak memasukan wilayah Papua kedalam wilayah hukum Negara Republik Indonesia.
Bahkan dalam sidang-sidang itu Dr.Muhamad Hatta dengan tegas mengatakan “ kemerdekaan RI hanya untuk rumpun bangsa Melayu tetapi rumpun bangsa Melanesia tidak termasuk dengan alasan bahwa orang Papua masih terbelakang atau tertinggal biarlah nanti orang Papua menentukan nasibnya sendiri atau merdeka.
Berdasarkan fakta-fakta Sejarah di atas membuktikan bahwa Papua tidak termasuk dalam kemerdekaan Indonesian karena kemerdekaan Indonesia hanyalah untuk golangan dan rumpun Melayu bukan untuk orang Papua yang berrumpun Melanesia, karena dalam Sejarah secara jelas Bung Hatta pernah mengatakan demikian.
Sehingga berdasarkan fakta-fakta Sejarah ini, mengapa Indonesia tidak mau mengakui kemerdekaan bangsa Papua?? Apakah orang Papua juga termasuk rumpun melayu?? Karena kemerdekaan Indonesia bulkanlah untuk orang atau rumpun Melanesia. Dan akhirnya kemerdekaan Papua adalah “HARGA MATI” yang “TIDAK BISA DITAWAR-TAWAR”

*( wasege.blackmen.duso)*

musa pagawak mengatakan...

indonesia kan harga mati
berrti mati sampai dorang merdeka situ saja
kalau papu kan kita punya cita cita dan kemajuan massa depan
jadi berjuang terus sampai waktunya tiba...
tapi saya mau berterimaksih kpada negara indonsia cuma satu kata yaitu
termaksih udha ksih sekolah saya
udah kasih pintar saya untuk mengkrtik kamu.....
paua tetap merdeka...

Amanda di wonosobo mengatakan...

Assalamualaikum wr,wb.
Terimakasih banyak Mbah Wongso..
Saya sangat bersyukur berkat bantuan anda yang telah membantu saya dan keluarga saya
dalam bermain togel sgp/hk Alhamdulillah saya berhasil mendapatkan kemenangan 4D, berkat kemengan
yang saya dapatkan 250 juta saya sudah bisa membahagiakan kedua orang tua saya.
karna melalui jalan togel ini saya sekarang sudah melunasi semua utang Orang tua saya di Bank.
Semuanya berkat bantuan Mbah Wongso yang telah memberikan angka 4Dnya kepada saya dengan
ANGKA SINGAPURA 2468 RABU 01 JANUARI 2014. kini saya bangga pada diri saya sendiri sudah
membahagiakan kedua orang tua saya.
yang ingin seperti saya hubungi (((_MBAH WONGSO_))) Di nomor (((_0852_5728_2525_))) memang selalu tepat dan terbukti
Nomor ritual Mbah Wongso. semoga Tuhan membalas anda Mbah..
Terimakasih Banyak' Wassalam....

Amanda di wonosobo mengatakan...

Assalamualaikum wr,wb.
Terimakasih banyak Mbah Wongso..
Saya sangat bersyukur berkat bantuan anda yang telah membantu saya dan keluarga saya dalam bermain togel sgp/hk Alhamdulillah saya berhasil mendapatkan kemenangan 4D, berkat kemengan yang saya dapatkan 250 juta saya sudah bisa membahagiakan kedua orang tua saya.karna melalui jalan togel ini saya sekarang sudah melunasi semua utang Orang tua saya di Bank.
Semuanya berkat bantuan Mbah Wongso yang telah memberikan angka 4Dnya kepada saya dengan
ANGKA SINGAPURA 2468 RABU 01 JANUARI 2014. kini saya bangga pada diri saya sendiri sudah
membahagiakan kedua orang tua saya.
yang ingin seperti saya hubungi (((_MBAH WONGSO_))) Di nomor (((_0852_5728_2525_))) memang selalu tepat dan terbukti
Nomor ritual Mbah Wongso. semoga Tuhan membalas anda Mbah..
Terimakasih Banyak' Wassalam....

Anonim mengatakan...

LUSUHNYA KAIN BENDERA DI HALAMAN RUMAH KITA BUKAN SUATU ALASAN UNTUK KITA TINGGALKAN.

Anonim mengatakan...

INDONESIA dahulunya adalah Netherland East Indies.(Hindia Belanda)dari sabang sampai Merauke.

tak ada satu negarapun didunia mau negaranya tercerai berai.
Aparat harus profesional menangani sparatis tidak seperti kriminal



Anonim mengatakan...

lho kok ada rumpun melayu dan non melayu/melanesia ?
mengapa hanya karena beda kulit dan rambut harus cerai?

Papua anak kandung ibu pertiwi jangan disia-siakan.
bangun dengan hati baik Jiwa dan raganya(pembangunan fisik(infrastruktur ) maupun sumber daya manusianya).

bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.

Anonim mengatakan...

Papua bagian dari ibu pertiwi, mengapa harus bercerai? bukankah enak jika kita hidup saling mendampingi? tanpa peperangan?

Poskan Komentar