Thursday, 24 September 2009

Selalu di Kucilkan

User Waktu Tag
Send Email Send Email
Kita sebagai orang papua pasti sudah, telah dan selalu merasakan ketidakcocokan hidup dengan bangsa Indonesia. Mengapa demikian? karena banyak sekali peristiwa dan kejadian-kejadian yang sering terjadi diluar kesadaran kita. Sepertinya kita menganggap bahwa hal itu biasa-biasa saja, tetapi kalau kita mau cermati dan renungkan kembali semuanya, secara tidak langsung kita sedang dikucilkan oleh mereka (Indonesia, red).

Mereka selalu menganggap kita sebagai manusia yang mempunyai derajat dan martabatnya lebih rendah, jika dibandingkan dengan mereka. Dan juga, menurut pandangan mereka kita dianggap sebagai orang bodoh yang sebenarnya tidak layak hidup dengan mereka.

Saya selama satu tahun lebih berada di jogyakarta, banyak mengalami dan menjumpai kejadian-kejadian seperti yang saya maksudkan diatas. Dan kejadian-kejadian seperti itu rupanya bukan saya sendiri yang mengalaminya, namun teman-teman saya juga tidak luput dari hal itu. Kita sering diskusikan tentang hal itu dan memang betul derajat kita sebagai orang papua diinjak mentah-mentah oleh mereka (bangsa Indonesia.

Saya akan memberikan dua contoh konkrit yang dialami oleh saya sendiri dikalangan masyarakat jawa dan juga teman saya di kampus. mungkin selama ini kita menganggap bahwa hal itu biasa-biasa saja karena tidak terlepas dan berjalan sesuai dengan kehidupan rutinitas sehari-hari.

Yang pertama: setiap kali saya belanja entah itu di mol, tokoh, kios atau tempat jualan lain, barang yang saya beli serta uang kembalian pasti ditaruh diatas meja. Mereka tidak langsung berikan ke tangan saya (hand to hand).

Peristiwa ini sering sekali saya alami, saya sama sekali tidak mengerti apa maksud dari mereka. Apakah mereka menganggap saya ini makhluk yang aneh dimata mereka ataukah mereka menganggap saya ini orang yang sama sekali tidak layak dimata mereka..????. ataukah mereka sama sekali tidak memiliki jiwa pelayanan yang diberikan Cuma-Cuma oleh sang pencipta tunggal...???

Beribu pertanyaan selalu muncul dalam benak saya usai mengalami peristiwa tersebut. Pada saat itu sebenarnya saya ingin menanyakan langsung pada orangnya tetapi perasaa saya tidak enak dan juga saya mau marah tetapi tidak enak juga dengan perasaan orang itu, terutama terhadap warga setempat karena kos saya di kompleks itu.

Peristiwa kecil seperti ini, sampai sekarang pada umumnya mahasiswa papua di pulau jawa belum paham akan hal itu. Mungkin mereka (mahasiswa papua,red) menganggap bahwa hal itu adalah sebuah kegiatan rutinitas yang tidak mengandung maksud apa-apa. Ataukah mungkin saya sendiri yang mengalami akan hal itu, sampai-sampai bisah berpikir yang tidak-tidak?, tetapi saya mau katakan bahwa semua yang berasal dari papua pasti diperlakukan sama tidak ada yang dianak emaskan oleh mereka.

Kemudian yang kedua: sama halnya dengan yang diatas, namun hal ini terjadi bukan dikalangan masyarakat tetapi di kampus-kampus..

terus terang saya sebagai mahasiswa papua sering sekali diperlakukan ketidakeadilan antara saya sendiri dengan teman-teman yang berasal dari luar papua oleh para dosen dan asisten dosen (ASDOS).Mengapa saya bisah bilang seperti begitu? Karena setiap kali kami praktek di kampus, yang diutamakn pasti mereka-mereka yang bukan orang papua. Saya sendiri sama sekali tidak mengerti akan hal itu, apakah mereka menganggap saya ini mayat hidup sehigga saya tidak dilibatkan langsung dalam praktek itu padahal semua administrasi kampus lunas saya bayar sama seperti teman-teman yang lain, Ungkap Tandius Waker mahasiswa UKRIM Jogyakarta, semester lima.

Kemudian dia menambahkan juga; setiap kali memulai praktikum pasti yang disuruh maju terlebih dahulu adalah teman-teman saya dan mereka dijelaskan sampai mengerti betul tetapi saya sama sekali tidak diperlakukan seperti mereka.

Yang jelas saya adalah orang paling terakhir dari semua. Saya tidak pernah dijelaskan sampai tuntas karena alasan waktu habis. Yang herannya selama tiga jam itu, saya hanya mendapatkan waktu kurang lebih 20-25 menit. Sisanya teman-teman saya, padahal jumlah kelompok kita hanya terdiri dari 5 orang.

Semua pertanyaa yang saya ajukan tidak pernah ditanggapi serius oleh mereka, kalau dijelaskan juga hanya sedikit saja. Yang lebih aneh lagi usai penjelasan, saya tidak pernah ditanya oleh mereka (dosen dan asdos) apakah saya sudah mengerti atau tidak akan pertanyaan yang saya ajukan itu. Katanya dalam diskusi singkat yang kami lakukan di sebuah café dekat selokan mataram.

Saya sangat sedih melihat teman saya Tandius Waker saat menceritakan pengalamannya itu, karena dia sama sekali diperlakukan tdak adil oleh para asdos dan dosen di kampusnya. Raut wajahnya terlihat sangat sebal dan kecewa dengan hal itu. Dengan begitu dia beranggapan bahwa kita orang papua harus berpisah (merdeka) dari bangsa Indonesia. Karena, kalau tidak berpisah kita akan tetap diperlakukan tidak adil oleh mereka lewat berbagai macam cara seperti contoh diatas.

Sekarang yang menjadi pertanyaan berdasarkan pengalaman-pengalaman seperti yang saya alami ataupun yang mungkin saudara pernah alami adalah, Apakah kita berani menantang mereka yang melakukan ketidak keadilan terhadap kita secara langsung pada saat itu juga ataukah kita mau masa bodoh akan hal itu dan membiarkannya berkembang pesat di kalangan kita , padahal kita tahu bahwa dengan berkambangnya hal itu hidup kita ke depan akan hancur??.

Mungkin kamu membiarkan hal itu berkembang dengan mengingat posisi atau kedudukan kamu dipemerintahan baik. Tetapi perlu kamu ketahui bahwa selagi kulitmu hitam dan rambutmu keriting sampai kapanpun kamu tetap dikucilkan oleh bangsa Indonesia.

Musnahya ketidak keadilan yang terus merajalelah di tanah papua tidak ada ditangan orang jawa, batak, manado atau yang lain-lain tetapi ada ditangan-tangan bagi yang merasakan diperlakukan ketidak keadilan. (AMOYE YOGI)
Rekomendasi Untuk Anda × +
  1. Ok. bro..
    Mungkin itu hanya sebatas yang anda rasakan..
    tapi mungkin itu juga karena kurangnya kecintaan kita terhadap tanah air indonesia..
    saya kira disini cukup wajar, saya pribadi mengakui, mungkin ketika melihat orang dari daerah papua saya agak kaku, krena kami kurang terbiasa dengan yg biasa kita temui. hal ini saya kira cukup wajar, sama ketika kita bertemu dengan seorang turis dari mancanegara. tapi hal itu belum tentu kita juga "kurang senang" dengan orang papua, namun mereka mungkin kurang terbiasa.
    Mungkin hal yang sama juga akan terjadi ketika ada orang berkulit putih (mungkin tionghoa) yang ada di papua..mereka mungkin akan menerima perlakuan yang sama ketika mereka ada diantara orang2 papua.
    hal ini saya rasa bukan hal yang baru bro... dahulu orang tionghoa bahkan secara nyata tidak/kurang diakui oleh kebanyakan orang terutama masa orde baru...tpi apa yang mereka lakukan untuk bangsa kita ternyata juga banyak yang mengharumkan nama bangsa bahkan sampai kalangan internasional.
    Cinta kepada bangsa dan ibu pertiwi indonesia tidak dapat didasari dari perlakuan segelintir orang yg mungkin mereka tidak menyadarinya...
    Saya rasa kita sebagai manusia terutama bangsa indonesia yg besar harus banyak belajar mengenai hal ini agar kita dapat tumbuh menjadi bangsa yang besar dan lebih baik.

    ReplyDelete