Tuesday, 7 September 2010

Wajah pemimpin Papua sekarang

User Waktu Tag
Send Email Send Email
Butuh orang yang bekerja jujur dengan rasa tanggung jawab yang tinggi minim sekali ada, dan bahkan sama sekali tidak ada. yang penting saya senang, keluargaku juga senang dan orang-orang yang pernah berjasa kepadaku juga senang, yang di luar dari pada itu untuk apa...epenkah.. itulah sebuah karakteristik orang papua khususnya bagi mereka sudah duduk di bangku pemerintahan.

keluarga-is, suku-is inilah yang sudah merusak peradaban orang papua, dulu mungkin orang papua itu selalu hidup rukun, tidak ada perbedaan dalam hal apa saja. saling tolong-menolong adalah kebiasaan yang sudah berlangsung turun temurun, namun dengan berkembangnya jaman ini semua itu sudah layu dan bahkan sudah tidak kelihatan lagi dalam kehidupan sehari-hari.

saya bekerja di sini sudah 10 tahun lebih namun pangkat saya tetap dan gaji juga tidak pernah dinaikkan, sedangkan teman-teman saya yang baru pangkat dan gaji mereka jauh lebih tinggi dari saya padahal mereka baru bekerja 2-3 tahun, ungkapnya

dilanjutkan lagi, semua ini sampai saat ini juga saya belum mengerti sebenarnya permainan seperti apa yang sedang bertumbuh dan berkambang di birokrasi-birokrasi ini, tuturnya.

belau adalah guru tua yang sampai saat ini masih aktif mengajar di sebuah sekolah dasar, meskipun begitu beliau mengatakan bahwa dia akan tetap setia dengan pekerjaan yang sudah Tuhan percayakan untuknya, dan dia berkomitmen juga "saya akan menghabiskan sisa hidup saya untuk anak-anak yang masih membutuhkan pendidikan dan itu akan saya lakukan dengan serius selagi saya mampu untuk melakukan hal itu..".

hati ini terasa sakit dan perih ketika belau menyampaikan isi hatinya itu, mau marah juga salah, mau ini dan itu juga semua serba salah. jadi yang saya bisah lakukan pada saat itu hanya berdiam diri sambil merenungkan semuanya.

pada saat itu juga belau berpesan kepada saya, "sebagai pelajar yang bisah kamu lakukan adalah belajar dan belajar bagaimana supaya perlakuan kurang terpuji itu tidak terulang nantinya. dapat menerima siapa saja tanpa memandang dia itu siapa, suku, keluarga, agama dan lain-lainnya".

sesuai dengan itu, kondisi rill atau realita yang sedang berkembang saat ini di setiap kabupaten- kabupaten di propinsi papua sangat disayangkan sekali. karena setiap visi dan misi di buat sedemikian rapi dengan bahasa yang cukup tinggi namun yang terjadi di lapangan sama sekali tidak ada bukti yang cukup yang bisah membuktikan kalau visi dan misi itu telah terwujud , dengan begitu ini menjadi sebuah pertanyaan besar bagi kita semua, mengapa bisah demikian padahal dana yang disiapkan untuk satu kabupaten cukup tinggi..???

itulah ketidak-kemampuan bupati memilih orang-orang yang bisa atau mampu untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan itu dengan sungguh-sungguh. dengan demikian kita bisah menggambarkan bupati tersebut secara langsung sedang memilih kaki tangannya berdasarkan sukuis dan keluargais. dia (bupati) memilih menempatkan mereka tanpa melihat dan mengukur apakah mereka benar-benar mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya itu.

sistim inilah yang ada sekarang, jadi tidak tahu entah kapan papua yang kita cintai ini akan keluar dari kebodohan ini. karena lewat sistim ini kita sedang di bodohi supaya kita tidak menggali dan mengembangkan kemampuan sebenarnya yang ada pada kita sebab tanpa sadari kita akan berpikir untuk apa saya harus sekolah dan untuk apa saya harus belajar ini dan itu, kok nantinya juga saya akan di pakai karena yang menjadi bupati adalah kakak saya, om saya, bapade saya, bapa saya, dan lain-lainnya.

mari kita buang sistim ini dan membangun sistim baru yang dapat memacu perkembangun ketidak-kemampuan yang ada menjadi manusia yang mampu melakukan apa saja. (amo)
Rekomendasi Untuk Anda × +