Tuesday, 2 November 2010

Kesaksian dari seorang "Mama"

User Waktu Tag
Send Email Send Email
Libur semester pada bulan juni lalu, saya melakukan perjalanan yang cukup jauh. Awalnya sih tidak punya rencana untuk berlibur ke mana-mana apalagi ke Pulau Papua tanah tumpah darahku yang jauh di sana. Namun, karena kebetulan ada pesta adat atau pesta babi (yuwo sebutan suku mee) di kampung, saya dipanggil mama tercinta untuk pulang.

di panggil pulang, jujur pada saat itu saya merasa senang dan gembira sekali karena yang pastinya saya dapat bertemu kembali dengan mamaku yang sekarang sudah berumur 68 tahun dan semua sanak saudara yang selalu membantu saya dalam doa. Lalu tanpa berpikir ini dan itu saya bergegas menyiapkan seluruh barang bawahan untuk dibawa ke papua, salah satunya dari sekian banyak barang pesanan yang saya bawa pada saat itu adalah benang lima bungkus untuk mama Muyapa (katanya, mau buat noken lewat handphone seluler).

kemudian, setelah membeli tiket kapal di kota gudek, dengan menggunakan bus EKA dari Terminal Giwangan bersama beberapa teman saya, kami berangkat menuju Surabaya. Kapal putih besar yang dibeli Indonesia dari Negara Teknologi nomor satu di dunia yaitu Jerman telah berlabuh di Pelabuhan Tanjung Perak, seakan-akan sedang menunggu kedatangan kami. Karena harus mencari tempat istrahat sekaligus tempat menaruh barang-barang bawahan tadi kamipun langsung naik dalam Kapal.

Tidak terasa kami telah berlayar mengarungi laut Jawa, laut Banda dan laut Papua yang begitu luas selama tiga malam empat hari lamanya menggunakan Kapal Motor Dorolonda (KM Dorolonda). Sebelum berlabuh di pelabuhan kota minyak, Sorong. saya melihat dari kejahuan Pulau Papua terlihat sangat indah dihiasi dengan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang tumbuh bertebaran dimana-mana dan hewan yang bergerak dengan leluasah tanpa dibatasi oleh apapun.

saya sangat terharu dan tidak tahu harus berkata apa. Karena bingung, yang ada pada saat itu hanyalah ucapan syukur berupa doa dalam hati yang saya panjatkan kepada sang pencipta karena Dia bisa dan telah cipatakan tanah Papua yang kaya raya akan kekayaan alam untuk saya yang berambut keriting dan berkulit hitam ini.

Dan pada akhirnya dengan selamat saya tiba di Kabupaten Emas, Nabire. Kurang lebih dua minggu saya habiskan waktu disana, banyak hal yang saya dapatkan selama itu, entah dari hal yang saya duga dan juga sampai kepada hal-hal yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Salah satunya adalah dulu ketika saya masih bersekolah, bercanda, cerita mop (cerita lucu khas papua)dan bermain sembunyi-sembunyi sampai jauh malam atau larut malam itu hal biasa (tidak ada rasa takut) dan tidak pernah terjadi hal-hal buruk seperti yang kerab kali terjadi terus menerus belakangan ini. Keadaan seperti itu rupanya pada saat itu sudah terbalik 99 derajat.

Mengapa saya bisah bilang demikian,? karena Waktu itu sekitar jam 19.00 WIT atau jam 7 malam waktu papua saya di suruh beli gula untuk putar teh. Sebelum saya jalan mama pesan agar kalau boleh beli jangan jauh-jauh, cari kios yang terdekat dan kalau sudah dapat langsung pulang, tidak boleh lama-lama diluar karena keadaan sekarang di seluruh papua berbahaya, tidak sama dengan yang dulu. Kira-kira itu pesan mama yang masih saya ingat dalam benak sampai saat ini.

Mendengar itu, selama perjalanan saya merasa kwatir dan takut karena keadaan pada saat itu di sekitar kompleks memang benar terasa sangat sunyi, tidak ada kendaraan motor atau mobil yang lalulalang dan yang lebih aneh lagi selama dalam perjalanan ke kios maupun pulang ke rumah tidak seorangpun yang saya temui. Keadaan pada saat itu yang saya rasakan benar-benar angker dan menakutkan sekali sampai-sampai membuat seluruh bulu badan saya berdiri tegak. Heran, sungguh mengherankan sekali Padahal kompleks itu ketika saya masih sekolah dulu sangat rameh, kita bisah melihat orang dimana-mana walau sudah jauh malam sekalipun.

Karena rasa penasaran yang tinggi dengan pesan mama sekaligus ditambah lagi dengan kondisi lingkungan yang sudah saya rasakan ketika membeli teh, setelah sampai di rumah saya langsung bertanya kepada mama, “mama, kenapa mama bisah bilang seperti itu tadi…?”. Dengan nada yang halus sambil membuat teh mama menjelaskan semua kelakuan-kelakuan busuk atau pelanggaran-pelanggaran HAM berat yang selalu dilakukan aparat keamanan.

Tanpa merasa bersalah dan berdosa mereka (aparat) memperlakukan kita secara kasar. Dan hal itu mereka lakukan di depan kita. Jelas-jelas mereka telah melanggar hukum yang berlaku di republic ini, namun persoalan-persoalan itu tidak pernah dibawa ke pihak terkait dan malahan kadang persoalan yang sama dilakukan berulang kali, jelasnya dengan nada kesal campur kecewa.

Usai menjelaskan semuanya, saya kaget dengan kata-kata mama yang seakan-akan menunjukkan telah pasrah menerima perlakuan-perlakuan itu, ini kalimat yang diucapkan oleh mama “Nak, mama sendiri kadang bingung mengapa kita orang papua selalu di perlakukan seperti itu. Apakah ini sudah menjadi nasib kita sebagai bangsa yang lemah ataukah apakah hal ini diijinkan Tuhan terjadi karena kita lalai dalam menjalankan aturan-aturanNYA atau jugakah ini merupakan ujian dariNYA?” Katanya sambil mngusap air mata.

Dengan melihat wajah mama yang begitu mengharapkan pertolongan untuk memperoleh sebuah harapan agar bisah keluar dan bebas dari segala intimidasi, saya hanya bisah terpaku diam bagai orang bisu. Mau bilang ini dan itu untuk berusaha menenangkan batin dan jiwa mama juga serba salah karena mereka adalah korban utama yang sudah melihat bahkan telah merasakan perihnya sakit itu.

Melihat saya membisuh seperti itu, tangannya yang lembut merangkul saya sambil berkata “nak, Tuhan itu tidak buta dan tidak tuli. Dia maha adil dan benar. Dia ada bukan untuk orang kuat melainkan untuk orang lemah yang butuh pertolongan, bukan untuk orang kaya melainkan untuk orang miskin, dan bukan untuk orang pintar melainkan untuk mereka yang bodoh.” Sambil menutup pembicaraan itu dengan doa singkat.

Rupanya penjelasan dari mama secara menyeluruh yang saya tangkap pada saat itu, selama orang papua berada dalam wilayah NKRI selama itu pulah kekerasan akan terus-menerus dirasakan dari generasi ke generasi. Dan Menurut penjelasannya juga bentuk-bentuk kekerasan yang pada umumnya sering terjadi dan selalu dirasakan oleh seluruh kalangan orang papua baik yang di pesisir, gunung, lembah dan bahkan yang berada di kali atau sungai sekalipun adalah pembunuhan, pemerkosaan, penculikan, pelesehan seksual, menyita barang-barang yang dianggap bertentang dengan Negara, dan masih banyak bentuk kejahatan lain.

Kalau sudah seper ti itu, sebenarnya ini tugas dan tanggung jawab siapa? Banyak keluarga kita di papua sana yang hidup seperti merantau di tanah orang. Sungguh tragis dan sangat menyedihkan kehidupan sehari-hari mereka. Pergi berkebun untuk memenuhi kebutuhan keluarga sudah tidak sebebas seperti dulu. Kemudian yang lebih aneh lagi Pergi ke kamar kecil saja harus di antar padahal jarak antara rumah dan kamar kecil hanya 5 m atau 10 m. bukan itu saja, masihn banyak contoh lain yang tidak bisah saya sebutkan satu per satu namun inti dari semua itu adalah ketika mereka yang berada di papua sana mau keluar dari rumah harus was-was.

Tidak ada jalan lain, kalau kita mau keluar atau bebas dari kekerasan-kekerasan itu selain “merdeka”. Memisahkan diri dari NKRI dan menentukan nasib hidup sendiri. Toh kalau kita berdiam diri dan saling berharap seperti ini terus, apakah kita bisa memperoleh kemerdekaan itu….???. (amo)
Rekomendasi Untuk Anda × +
  1. tabea...! my first visit, di tunggu knjungan balikx Bro, salam kenal sll sesama blogger Papua. Blognya bagus Bro...!

    ReplyDelete
  2. Tengah malam saya tertarik untuk singah di blogmu. saya menemukan judul dari tulisan ini yang saya rasa menarik untuk saya baca....

    saya terharu dan tengelam dalam lenturan cerita yang nai tulis. Saya tersentu dengan kata-kata ini, "Banyak keluarga kita di papua sana yang hidup seperti merantau di tanah orang."

    Sunguh, ini tidak bisa dibiarkan!

    Ah, nai. Tingkatkan trus, blognya tamba bagus...
    tulisannya pun tamba taja...

    Maju terus!

    ReplyDelete
  3. Blog yang bagus. Tingkatkan mutunya dengan lebih ilmiah lagi.

    ReplyDelete