Thursday, 6 January 2011

Catatan khusus buat saya pribadi

User Waktu Tag
Send Email Send Email
Amoye- selama di tanah rantau ini banyak sekali hal-hal baru yang saya temui dan jumpai secara langsung, yaitu mulai dari lingkungan warga, tempat saya tinggal (kos). lingkungan kampus, tempat saya menuntut ilmu. lingkungan mahasiswa papua, tempat saya belajar berorganisasi dan tempat saya bergaul dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan begitu pastinya saya di temukan dengan orang-orang yang aneh, maksudnya aneh dengan sifat dan karakter yang dimiiki. Yang kadang sifat dan karakter mereka membuat saya senang dan juga ada pulah yang membuat saya jengkel.

Disitulah saya dituntut untuk belajar berbesar harti, mau menerima semua itu tanpa harus ngomel, bersungut-sungut atau marah sekalipun. Dan juga, Justru disitu saya harus belajar untuk bisa menempatkan diri atau dengan kata lain bisa menyesuaikan diri meskipun terasa berat dan susah.

Dilingkungan kampus,

saya banyak kenalan. Mereka yang saya kenal Bukan saja teman-teman seangkatan melainkan juga dengan kakak-kakak tingkat dalam jurusan yang sedang saya tekuni. Kemudian terlepas dari itu juga, saya banyak mengenal teman-teman dan kakak-kakak tingkat dari jurusan lain juga.

Mungkin dipapua tidak banyak suku yang saya kenal dan tahu. Suku jawa, batak,bugis, toraja, ambon, manado, Madura, dan suku padang (biasanya disebut orang padang) itulah suku-suku yang pernah saya ketemu dan kenal. Namun sekarang dikampus, saya dipertemukan dengan berbagai macam suku yang bertebaran diseluruh wilayah NKRI dan juga suku-suku dari luar negeri seperti negara Timor Leste, Malaysia, singapura dan philipine.

Lingkungan warga,

kalau di lingkungan ini, saya memang mengalami sedikit kesusahan dalam bergaul karena banyak hal-hal baru yang saya temui dari warga-warga disitu. ada warga yang kelihatan rukun, ketika di sapa mereka balik menyapa, ketika diajak bicara mereka mau bicara. Namun ada juga warga setempat yang cuek alias malas tahu dengan keadaan disekitarnya. Kadang rasa jengkel dan kecewa itu muncul ketika bertemu dengan warga yang cuek, masa ditegur kok cuek.

rupanya itu memang merupakan sifat dan karakternya yang sudah mendarah daging, yang juga merupakan pembawaan turun-temurun dari nenek moyang atau para leluhur mereka di tempat itu. Ini pengakuan sendiri oleh salah satu warga setempat yang sempat saya ajak bicara.

Lingkungan tempat saya belajar berorganisasi

Lalu hal yang sama juga saya alami dilingkungan tempat saya belajar berorganisasi, yaitu lingkungan suku saya MEE dengan organisasi yang bernama WISELMEREN RAYA. Organisasi wiselmeren ini merupakan organisasi induk yang didalamnya terdapat beberapa organisasi seperti organisasi IPMAPAN (ikatan pelajar dan mahasiswa paniai), organisasi IPMADO (ikatan pelajar dan mahasiswa dogiyai), organisasi IPMADE (ikatan pelajar dan mahasiswa deiyai) dan IPMANAB (ikatan pelajar dan mahasiswa nabire).

Dengan adanya organisasi induk diatas yang mewadahi empat ikatan , saya dipertemukan dengan berbagai macam karakter dan sifat yang sedikit aneh dari masing-masing organisasi, entah itu dari hal yang bersifat atau berkarakter baik dan sampai pada hal yang buruk pulah. Rupanya semua ikatan diatas masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Tidak bisah dikatakan ikatan ini yang bagus sedangkan ikatan ini tidak baik. sebab tujuan dari ikatan pastinya baik.

Cuman yang menjadi pertanyaan, dulu sebelum berpisah semua mahasiswa Mee selalu satu artinya selalu sepikir dalam melaksanakan atau melakukan apa saja yang sudah di putuskan bersama. Saling menghargai dan menghormati antara satu sama lain Nampak sekali. Tidak ada rasa egois, saling iri atau cemburupun tidak ada. Namun, untuk sekarang keadaan itu sudah tidak di temukan lagi dalam organ induk ini, mengapa demikian…?

Mahasiswa MEE sekarang,

Itu merupankan sedikit banyaknya contoh yang bisah saya ambil, namun yang ingin lebih saya tekankan disini bahwa mengapa manusia mee atau suku MEE yang dikenal dengan sebutan manusia sejati tetapi praktek dilapangan nol. Tidak menunjukkan keasliaan dari kata MEE itu sendiri. Padahal MEE adalah manusia, manusia yang diciptakan sangat sempurna oleh sang pencipta tunggal melebihi ciptaan lain yang ada dibumi ini.

Tentunya Yang juga memiliki sifat dan karakter dari sang pencipta itu sendiri, seperti saling mengasihi satu sama lain, terbuka, jujur dan lain-lain yang pernah Dia tunjukkan 2000 tahun yang lalu. Namun untuk suku MEE sekarang pada khususnya mahasiswa MEE, Yang ada hanya saling marah antara satu oknum ke oknum lain, antara satu kelompok ke kelompok yang lain, antara satu fraksi ke fraksi yang lain dan juga dari satu organisasi ke organisasi yang lain. Bukan hanya itu saja, tidak jujur bahkan saling tertutup dalam hal apa saja sudah nampak.

Puncak kehancuran mahasiswa mee bermula seiring terjadinya pemekaran wilayah di kabupaten nabire dan kabupaten paniai. Yang mana kabupaten nabire berhasil memekarkan kabupaen dogiyai sedangkan kabupaten paniai berhasil memekarkan dua kabupaten sekaligus dalam setahun yaitu kabupaten deiyai dan kabupaten intan jaya.
Melalui itu pulah, mahasiswa mee juga ikut pecah dan hancur. Masing-masing berdiri memisahkan diri sesuai dengan pemekaran wilayah itu, mahasiswa paniai berdiri sendiri, mahasiswa dogiyai berdiri sendiri, mahasiswa deiyai berdiri sendiri begitupun mahasiswa intan jaya dan nabire juga demikian.

Kalau sudah seperti begini sebenarnya siapa yang salah dalam hal ini. Kalau dipikir-pikir semuanya serba salah, namun yang lebih salah pastinya adalah mahasiswa MEE bukan orangtua-orangtua kita yang telah setuju dengan pemekaran. Mengapa…?? Karena, Disini kita bukannya menjadi contoh atau teladan bagi mereka melainkan ikut rameh-rameh mensukseskan pemekaran itu melalui pemekaran organisasi-organisasi.

Mungkin ada dari kita yang pernah bilang bupati paniai dan nabire sangat bodoh, kenapa mereka berdua mau mekarkan daerah lain padahal daerah-daerah tersebut tidak memenuhi kriteria untuk dimekarkan. Bukan hanya itu, berbagai macam kata-kata kotorpun pasti keluar ketika itu. yang menandakan atau menunjukkan kalau kita sangat tidak setuju menerima pemekaran wilayah tersebut.

Apa yang kita lakukan pada saat itu, sangat benar sekali dan harus diberi jempol, sebab dengan begitu kita telah menunjukkan kalau kita sedang peduli dengan tanah papau yang sedang dimainkan oleh NKRI ini. Dan tentunya, kita tahu dengan adanya pemekaran wilayah yang tidak benar akan terjadi apa dan akan mengakibatkan apa serta akan berdampak apa pada daerah itu sendiri dan pada masyarakat atau suku yang mendiami wilayah tersebut dikemudian hari. Sehingga dengan tegas tanpa kompromi apapun kita telah menolaknya pada saat itu.

Namun sayang sekali, rupanya keadaan ini tidak bertahan lama, hanya dalam 6 bulan sampai satu tahun dari dimekarkannya wilayah tersebut seluruh mahasiswa (tidak tahu dikomando oleh siapa) meminta memisahkan diri dari organisasi induk untuk membentuk organisasi baru Dengan alasan yang tidak jelas dan logis, mengapa? Karena pemerintahan disana umurnya masih sangat mudah dan masih memakai sistem karateker yang artinya masih bergantung penuh pada kabupaten induk. Belum berpisah, system kerjanya 90% masih dikendalikan oleh kabupaten induk.

Tetapi bedah dengan mahasiswa, semua terjadi secara gila-gilaan. Tidak mengikuti mekanisme dan prosedur yang ada. Kalau sudah seperti begitu, sebenarnya ada apa dibalik semua itu….???. masa sudah tahu kalau itu merupakan langkah bodoh yang akan menghancurkan persatuan dan kesatuan serta kekompakan yang telah dipelihara lama dengan bersusah paya tetapi masih saja mau melangkah.

Cacatan khusus buat kita semua,

Katanya kita sebagai mahsiswa adalah agen perubah, apa sih yang bisah dirubah dari mahasiswa mee sekarang kalau kita sendiri sudah pecah seperti ini. Lalu bekal apa yang bisah kita bawah ke daerah sana untuk merubah atau memperbaharui kembali suasana asri dan harmonis seperti sedia kala…??
Rekomendasi Untuk Anda × +
  1. Sob, andalan... Betul skali....! Ko pu Tulisan ni, kirim ke Mahasiswa Mee-Migani Sejawa dan Bali boleh.... andalan skali, mudah-mudah tong smua bisa sadar dan buat yang terbaik untuk tong dan demi tong pu kebersamaan.

    = Activist Independent For West Papua =

    ReplyDelete