Saturday, 11 June 2011

Jekson F. Tiago: Orang luar yang Cinta Tanah Papua

User Waktu Tag
Send Email Send Email
Saya sebagai orang papua, jujur sangat malu dengan pelatih Persipura Jayapura Jekson F. Tiago, mengapa??? karena begitu besar kecintaan dia terhadap klub pPersipura khusus dan Tanah Papua pada umumnya. Buktinya setelah usai mengalahkan Persiram Samarinda hari rabu kemarin, belau tidak henti-henti mencucurkan air matanya sambil melombat-lompat bersama seluruh pemain dan offisial ditengah lapangan ketika wasit meniup pluit panjang pertanda pertandingan telah selesai .

Dia menangis seperti anak kecil yang benar-benar tidak tahu diri. Tidak ada rasa malu, minder, dan dia juga tidak menyadari dirinya ketika itu kalau dia adalah seorang pelatih profesional. pelatih yang bisa dibilang sudah dan telah memiliki kriteria pelatih Internasional seperti di liga-liga luar.

Pelatih yang dengan mudah bisa membaca karakter atau kepribadian dari seluruh pemain yang dilatih, yang bisa membaca titik-titik kelebihan dan kelemahan lawan sebelum turun tanding secara tepat, kemudian juga pelatih yang pintar mengambil hati anak buanya yang membuat mereka kadang terlihat akrab sekali seperti kawan baik didalam maupun diluar lapangan. bukan hanya itu dia juga adalah seorang motivator ulung

Chainal ANTV yang menyiarkan langsung pertandingan antara Persipura vs persiram yang merupakan laga kunci juara ISL bagi Persipura pada saat itu mengambil dengan jelas sekali gambar wajah Pelatih Jekson F. Tiago ketika merunduk menangis mengeluarkan air matanya yang begitu berharga, yang dikeluarkan cuma-cuma hanya untuk persipura klub kebanggaan orang rambut keriting dan kulit hitung.

Bingung, heran, terharu dan senang pulah dengan sikap dia (Jekson F. Tiago) namun sedikit aneh karena hal itu baru pertama kali saya lihat pelatih sekaliber dia yang bisa menangis. sebab setahu saya selama mengikuti berita bola baik dalam maupun luar negeri setiap pelatih yang berhasil membawa klub atau negaranya menjuarai sebuah turnamen sikap mereka biasa-biasa saja. maksudnya sikap yang terlihat saat itu secara umum pastinya tertawa, senyum, berlari keliling lapangan sambil lompat-lompat, dan lain-lain.

tapi coba kita lihat apa yang dilakukan pelatih asal brasil ini yang berhasil membawa mutiara hitam bercahaya didalam maupun diluar, dia mengajak seluruh pemain dan offisialnya untuk mensyukuri kebesaran Tuhan dengan membentuk lingkaran dilapangan.

ini sikap yang perlu kita contoh dan teladani, dia tunjukkan kepada semua orang khususnya orang papua asli bahwa dia melatih persipura bukan karena landasannya dibayar dengan harga yang tinggi namun karena kecintaan dia terhadap tanah papua.bukti atau contoh konkrit yang bisa kita lihat disini kalau dia adalah salah satu orang yang paling cinta tanah papua.

yaitu ketika mereka bermain di liga AFC babak 16 besar melawan tuan rumah Song Lam Nghe An (vietnam), saat itu tim Persipura ketika tiba di bandara vietnam, mereka harus melakukan sekali penerbangan lagi ke tempat bertanding namun karna kendala cuaca terpaksa mereka harus menempuh jalan darat menggunakan bus yang memakan waktu 6-7 jam.

dengan begitu otomatis stamina dan kekuatan semangat seluruh pemain akan menurun karena pengaruh faktor kelelahan, letih atau lesuh. namun disituasi yang mencekam seperti itu jekson f. tiago sebagai pelatih yang bijaksana, dia mengajak seluruh pemain maupun offisial yang berada dalam bus yang mereka tumpangi untuk berdoa meminta kekuatan dan kemampuan kepada Tuhan Yesus.

"saya tahu kita semua yang berada dalam bus ini datang jauh dari wilayah indonesia paling timur yaitu tanah papua untuk main bola dengan satu tujuan dan harapan yang jelas yaitu untuk memenangkan turnamen ini dan saya tahu betul kalau saat ini juga seluruh orang papua yang ada di belahan bumi sedang mendoakan kita agar kita bisa menang nanti, mungkin diantara mereka (orang papua) ada yang berdoa dengan sikap biasa-biasa saja tetapi mungkin juga ada diantara mereka yang berdoa buat kita dengan mencucurkan air mata. untuk itu mari kita berdoa" katanya seraya mengambil sikap doa sekaligus pimpin doa.

seandainya saja kalau dia latih persipura karena orientasinya pada uang, saya pikir dia pasti cuek. dia akan malas tahu atau akan menghiraukan keadaan itu begitu saja. kalau kalah juga pasti tidak dipersoalkan sebab dia akan menyampaikan pada publik lewat media masa dan elektronik sesuai alasan tadi dan tentunya publik akan menerima alasan tersebut karena kalau dilihat alasannya dijamin 90% benar dan tepat sekali. namun tidak, pria yang baru saja berumur 43 tahun ini bukan orientasinya pada uang melainkan pada kesungguhan dan kecintaan dia menerima klub persipura dan seluruh lapisan tanah papua dengan tulus hati tanpa melihat yang lain-lain.

seperti yang pernah dia katakan ketika diwawancara salah satu reporter trans7 dalam acara GALERI SEPAK BOLA, saya sangat senang sekali melatih persipura karena saya merasa nyaman sekali dengan mereka, ketika melatih anak-anak mutiara hitam kadang saya teringat akan kampung halamanku karena antara mereka dengan kami banyak terdapat kesamaan dan saya pikir dengan begitu lambat atau cepat saya pasti beradaptasi langsung dengan keadaan dan situasi disana baik didalam kubu persipura sendiri maupun di lingkungan tanah papua maksudnya dengan masyarakatnya....katanya sambil tertawa..

tidak banyak hal yang ingin saya sampaikan lewat tulisan ini namun hanya satu..kenapa orang lain yang tidak ada ikatan dengan tanah papua saja begitu mencintai papua sedangkan kita sendiri sering cuek dengan keadaan di Papua....???
(amo)
Rekomendasi Untuk Anda × +
  1. Tulisan yang menyentuh. Terimakasi ats sharenya. Memang benar, jaksen F. Tiago, memang benar, jakson suda melakukan tugasnya melebih seorang pelatih profesional. Saya teringat, ketika pertama kali di kontrak persipura, ia, Jaksen bilang, "saya selalu berharap,agar suatu kelak nanti akan melatih tim mutiara hitam dan hari ini, kerinduan saya itu suda terjawab."

    ReplyDelete