Jusuf Kalla pada saat dialog
interkatif berkata, para pejuang Papua serukan politk Papua seakan mencari
jabatan dan kedudukan dalam pemerintahan begitu dapat jabatan atau mencapai
tujuan politik hilang tentang
perjuangan tanah.
Mungkin banyak orang papua yang setuju dan mungkin juga banyak yang tidak setuju dengan
pendapat beliau. Untuk saya secara pribadi sangat setuju dengan dia, karena
setelah mengikuti perkembangan para aktivis dari tahun ke tahun ketika mendapat
jabatan istimewa dibirokrat pemerintahan, mereka diam bisu seperti seorang bayi
yang baru lahir, acuh tak acuh dengan kondisi atau situasi yang sedang terjadi
di depan matanya.
Hal ini bukan satu atau dua
kali terjadi tetapi sering makanya beliau dengan tegas bisa berkata seperti
itu, mungkin teman-teman berpikir beliau mau munculkan saling ketidakpercayaan antara kita orang Papua atau mungkin beliau mau mematahakan
semangat perjuangan kita namun kalau dicermati dan dilihat kebelakang benar
sekali apa yang dikata mantan wakil presiden itu.
Tidak perlu saya sebutkan
siapa-siapa yang bertindak seperti demikian karena mungkin teman-teman papua pasti sudah mengetahuinya. Yang perlu kita bahas sekarang adalah
mengapa kita bisa seperti itu, mudah sekali ditawar dengan sepiring nasi. Kita
tidak fokus dengan tujuan kita, maksudnya kita tidak bisa membedahkan mana yang
lebih penting dan mana yang tidak penting.
Diatas ini adalah salah satu
contoh duri yang sedang indonesia tanam disetiap orang papua. Banyak sekali duri-duri yang lain juga. Yang menjadi pertanyaan
sekarang apakah kita harus duduk manis melihat duri-duri itu menguasai kita
atau apa tindakan yang harus kita lakuakan biar duri itu bisa tercabut dari
tubuh kita.
menurut pandangan saya,
setelah sering mengikuti perkembangan persoalan Politik Bangsa Papua Barat belakangan
ini. Hanya ada tiga tahapan yang perlu kita ikuti yaitu BANGKIT, BERSATU dan
LAWAN.
pertama kali melihat tiga kata ini dikalender yang dijual sobat Bernard Agapa saat perayaan Natal, Seminar dan Tahun Baru di Pantai Parangtritis, Jogya membuat saya kaget. Setelah dicermati baik-baik memang benar, itu senjata yang paling ampuh untuk merobohkan kekuatan apa saja.
pertama kali melihat tiga kata ini dikalender yang dijual sobat Bernard Agapa saat perayaan Natal, Seminar dan Tahun Baru di Pantai Parangtritis, Jogya membuat saya kaget. Setelah dicermati baik-baik memang benar, itu senjata yang paling ampuh untuk merobohkan kekuatan apa saja.
BANGKIT
Soal bangkit, saya
pikir kita orang papua sudah, sebab dipelosok
tanah papua bahkan yang ada di seluruh
dunia telah menyadari kalau Papua adalah sebuah negara merdeka. Buktinya
banyak, misalnya adalah melalui gerakan-gerakan perlawanan yang tiada hari
selalu terjadi seperti adanya TPN-OPM yang bergerak di hutan, para cendikiawan
melalui buku-buku perjuangan yang sudah banyak diterbitkan terkait politik papua, kemudian adanya banyak
organ pergerakan yang sering bersuara melalui seminar, aksi/demo, diskusi dan
lainnya.
Itu semua adalah bukti kalau
orang papua sudah bangkit. Bangkit yang
artinya sadar atau menyadari siapa dia sebenarnya dan sedang diapakan dia dari
latar belakangnya sampai saat ini.
Jadi jelas bahwa kesadaran
akan persoalan Negara Papua sudah diketahui oleh semua orang papua, tinggal bagaimana bersatu untuk merebut kembali.
BERSATU
Kemudian tahapan kedua
setelah bangkit adalah bersatu. Ini adalah tahapan yang bisa
dibilang susah-susah gampang. Pasca meninggalnya Bapak Revolusioner Theis Hiyo
Eluway, persatuan dan kesatuan dikalangan orang papua hancur berantakan. Semua berjalan dan melangkah dengan pemikiran
masing-masing.
Sibuk membentuk organ ini
dan organ itu. Tidak punya tali komando yang
jelas. Akibatnya sampai sekarang kita sendirilah yang bermusuhan. Kita baku
marah, benci, saling menjual, menjelekkan nama baik dan lainnya. Padahal kita
ini senasib, sama-sama sedang dijajah. Musuh atau lawan kita yang sebenarnya
ada. Tapi mengapa malah kita
sendiri yang menciptakan musuh dalam musuh (kita sendiri).
Sifat keegoisan terlihat sekali,
bukan hanya dikalangan mahasiswa atau orang tua kita yang di Papua melainkan orang yang kita percaya diluar untuk melakukan lobi atau dukungan dengan negara lain juga sama dengan. Bingung, padahal tujuan yang ingin kita capai sama tapi kenapa susah sekali kita
saling dukung-mendukung.
Kami punya visi dan misi
yang benar sedangakan kalian tidak, harus kami punya yang diutamakan. Inilah
sifat tidak baik yang sedang bergulir diantara seluruh organ pergerakan. Contoh
konkrit yang bisa saya berikan, mengapa ketika teman-teman dari KNPB melakuakan
aksi dijalan, teman-teman dari WPNA atau organ yang lainnya tidak ikut
bergabung begitupun sebaliknya KNPB tidak bergabung saat WPNA atau yang lainnya
melakukan aksi.
Bisa saya katakan mungkin
menurut para aktivis sifat egoislah yang lebih penting dari pada kebersamaan
dan kekompakan. Atau mungkin para aktivis
lebih percaya dengan pepatah yang berbunyi "banyak jalan menuju roma".
Untuk itu benar tapi sayang waktu tidak menunggu kita. Waktu terus berjalan dan prosesnya juga lama kemudian dampak negatifnya
akan lebih besar kita terima dibandingankan
dampak positifnya.
Apa ini yang namanya gengsi
organ atau gengsi kepintaran, mari bersatu. Tidak pernah didunia ini tanpa
persatuan dan kesatuan bisa mencapai sesuatu yang sama-sama ingin diimpikan. Jangan
jauh-jauh lihat saja negara tetangga, Timor Leste
yang berhasil merdeka pada tahun 2001. Persatuan dan kesatuan mereka sangat
struktural dan sistematis, mulai dari pergerakan
dalam kota, hutan, sampai luar negeri. Mereka satu komando. Bukan hanya Timor
Leste, Negara Cuba juga demikian,
persatuan antara Che Guevara, Fidel Castro dan pendukungnya di dalam kota juga terjalin
baik sehingga negara adi kuasa, Amerika Serikat berhasil mereka runtuhkan.
Jadi, bukan susah sebenarnya
gampang sekali hanya karena kita yang tidak mau. Seandainya semua orang papua
bersatu, saya jamin tinggal menunggu waktu saja kita akan berhasil merebut
kembali kemerdekaan yang pernah berhasil Negara Indonesia hapuskan. Karena tidak
ada cara atau jalan lain yang bisa kita tempuh selain bersatu.
Ingat persatuan ibarat jantung dalam organ tubuh
manusia, tanpa jantung manusia tidak akan hidup, demikian juga persatuan, tanpa
persatuan perjuangan kita akan sia-sia.
LAWAN
Setelah bersatu tidak ada pilihan lain selain lawan, karena hanya dengan perlawananlah kita akan mendapatkan sesuatu yang ingin kita raih. Kalau melihat jauh kebelakang, perlawanan sudah berlangsung lama sebelum Papua diintegerasikan ke Indonesia, namun selalu saja mengalami hambatan. Karena saat itu orang tua kita melakukan perlawanan sifatnya mempertahankan wilayahnya masing-masing (kampung/desa), kurang bersatu.
Setelah bersatu tidak ada pilihan lain selain lawan, karena hanya dengan perlawananlah kita akan mendapatkan sesuatu yang ingin kita raih. Kalau melihat jauh kebelakang, perlawanan sudah berlangsung lama sebelum Papua diintegerasikan ke Indonesia, namun selalu saja mengalami hambatan. Karena saat itu orang tua kita melakukan perlawanan sifatnya mempertahankan wilayahnya masing-masing (kampung/desa), kurang bersatu.
Sekitar tahun 1961, dimana
tahun yang pernah Bangsa Papua menyatakan diri sebagai sebuah negara secara de jure dan de facto ke atas, perlawanan terus berlangsung tetapi sifatnya
bukan mempertahankan wilayahnya masing-masing lagi melainkan umum, seluruh
tanah papua.
Dan itu berlangsung hingga
detik ini dan akan berlangsung terus. Saya senang karena perlawanan yang pernah
dilakukan oleh orang tua dulu masih kita lanjutkan sampai detik ini. Kalau dihitung
jumlah korban akibat perlawanan yang pernah jatuh diatas tanah papua terlalu
banyak, tidak bisa dijumlahkan. Bukan ratusan, ribuan, jutaan tapi sudah
melebihi itu.
Mari, kita jangan lagi mau
jadi korban sia-sianya penjajahan, bangkit, bersatu dan lawan
adalah solusi. Buang segala keegoisan yang ada, buka diri dan rendah
hati lebih penting karena itu merupakan senjata paling ampuh yang mudah
didapat.
Yang belum bangkit mari
bangkit, sadarlah bahwa kamu sedang dijajah. Lalu yang masih keras kepala atau
mau menang sendiri STOP, karena itu bukan jalan keluar, banyak sekali korban yang sudah, sedang dan akan berjatuhan kalau mau menang sendiri.
Rapatkan barisan dan buat
pergerakan baru, L A W A N ....................!!!!
(Amo)



1 komentar:
sangat setujuh bro,............ buanglah keegoisan/ hindari egoisme kelompok, dorong semangat, dan perlu dipahami bahwa perjuangan butuh pengorbanan (tidak ada suatu kesuksesan tanpa ada pengorbanan)ayo teman-teman para pemuda pemudi "anda adalah penerus/pewaris ibu pertiwi" jangan pernah berpangku tangan melihat ibumu diperkosa tetapi mari "bangit, bersatu dan lawan" Papua pasti merdeka. Agus.R
Poskan Komentar