Sunday, 15 January 2012

Bangkit, Bersatu dan Lawan

User Waktu Tag
Send Email Send Email

Jusuf Kalla pada saat dialog interkatif berkata, para pejuang Papua serukan politk Papua seakan mencari jabatan dan kedudukan dalam pemerintahan begitu dapat jabatan atau mencapai tujuan politik hilang tentang perjuangan tanah.

Mungkin banyak orang papua yang setuju dan mungkin juga banyak yang tidak setuju dengan pendapat beliau. Untuk saya secara pribadi sangat setuju dengan dia, karena setelah mengikuti perkembangan para aktivis dari tahun ke tahun ketika mendapat jabatan istimewa dibirokrat pemerintahan, mereka diam bisu seperti seorang bayi yang baru lahir, acuh tak acuh dengan kondisi atau situasi yang sedang terjadi di depan matanya.

Hal ini bukan satu atau dua kali terjadi tetapi sering makanya beliau dengan tegas bisa berkata seperti itu, mungkin teman-teman berpikir beliau mau munculkan saling ketidakpercayaan antara kita orang Papua atau mungkin beliau mau mematahakan semangat perjuangan kita namun kalau dicermati dan dilihat kebelakang benar sekali apa yang dikata mantan wakil presiden itu.

Tidak perlu saya sebutkan siapa-siapa yang bertindak seperti demikian karena mungkin teman-teman papua pasti sudah mengetahuinya. Yang perlu kita bahas sekarang adalah mengapa kita bisa seperti itu, mudah sekali ditawar dengan sepiring nasi. Kita tidak fokus dengan tujuan kita, maksudnya kita tidak bisa membedahkan mana yang lebih penting dan mana yang tidak penting.

Diatas ini adalah salah satu contoh duri yang sedang indonesia tanam disetiap orang papua. Banyak sekali duri-duri yang lain juga. Yang menjadi pertanyaan sekarang apakah kita harus duduk manis melihat duri-duri itu menguasai kita atau apa tindakan yang harus kita lakuakan biar duri itu bisa tercabut dari tubuh kita.

menurut pandangan saya, setelah sering mengikuti perkembangan persoalan Politik Bangsa Papua Barat belakangan ini. Hanya ada tiga tahapan yang perlu kita ikuti yaitu BANGKIT, BERSATU dan LAWAN.
pertama kali melihat tiga kata ini dikalender yang dijual sobat Bernard Agapa saat perayaan
Natal, Seminar dan Tahun Baru di Pantai Parangtritis, Jogya membuat saya kaget. Setelah dicermati baik-baik memang benar, itu senjata yang paling ampuh untuk merobohkan kekuatan apa saja.

BANGKIT
Soal bangkit, saya pikir kita orang papua sudah, sebab dipelosok tanah papua bahkan yang ada di seluruh dunia telah menyadari kalau Papua adalah sebuah negara merdeka. Buktinya banyak, misalnya adalah melalui gerakan-gerakan perlawanan yang tiada hari selalu terjadi seperti adanya TPN-OPM yang bergerak di hutan, para cendikiawan melalui buku-buku perjuangan yang sudah banyak diterbitkan terkait politik papua, kemudian adanya banyak organ pergerakan yang sering bersuara melalui seminar, aksi/demo, diskusi dan lainnya.

Itu semua adalah bukti kalau orang papua sudah bangkit. Bangkit yang artinya sadar atau menyadari siapa dia sebenarnya dan sedang diapakan dia dari latar belakangnya sampai saat ini.
Jadi jelas bahwa kesadaran akan persoalan Negara Papua sudah diketahui oleh semua orang papua, tinggal bagaimana bersatu untuk merebut kembali.

BERSATU
Kemudian tahapan kedua setelah bangkit adalah bersatu. Ini adalah tahapan yang bisa dibilang susah-susah gampang. Pasca meninggalnya Bapak Revolusioner Theis Hiyo Eluway, persatuan dan kesatuan dikalangan orang papua hancur berantakan. Semua berjalan dan melangkah dengan pemikiran masing-masing.

Sibuk membentuk organ ini dan organ itu. Tidak punya tali komando yang jelas. Akibatnya sampai sekarang kita sendirilah yang bermusuhan. Kita baku marah, benci, saling menjual, menjelekkan nama baik dan lainnya. Padahal kita ini senasib, sama-sama sedang dijajah. Musuh atau lawan kita yang sebenarnya ada. Tapi mengapa malah kita sendiri yang menciptakan musuh dalam musuh (kita sendiri).

Sifat keegoisan terlihat sekali, bukan hanya dikalangan mahasiswa atau orang tua kita yang di Papua melainkan orang yang kita percaya diluar untuk melakukan lobi atau dukungan dengan negara lain juga sama dengan. Bingung, padahal tujuan yang ingin kita capai sama tapi kenapa susah sekali kita saling dukung-mendukung.

Kami punya visi dan misi yang benar sedangakan kalian tidak, harus kami punya yang diutamakan. Inilah sifat tidak baik yang sedang bergulir diantara seluruh organ pergerakan. Contoh konkrit yang bisa saya berikan, mengapa ketika teman-teman dari KNPB melakuakan aksi dijalan, teman-teman dari WPNA atau organ yang lainnya tidak ikut bergabung begitupun sebaliknya KNPB tidak bergabung saat WPNA atau yang lainnya melakukan aksi.

Bisa saya katakan mungkin menurut para aktivis sifat egoislah yang lebih penting dari pada kebersamaan dan kekompakan.  Atau mungkin para aktivis lebih percaya dengan pepatah yang berbunyi "banyak jalan menuju roma". Untuk itu benar tapi sayang waktu tidak menunggu kita. Waktu terus berjalan dan prosesnya juga lama kemudian dampak negatifnya akan lebih besar kita terima dibandingankan dampak positifnya

Apa ini yang namanya gengsi organ atau gengsi kepintaran, mari bersatu. Tidak pernah didunia ini tanpa persatuan dan kesatuan bisa mencapai sesuatu yang sama-sama ingin diimpikan. Jangan jauh-jauh lihat saja negara tetangga, Timor Leste yang berhasil merdeka pada tahun 2001. Persatuan dan kesatuan mereka sangat struktural dan sistematis, mulai dari pergerakan dalam kota, hutan, sampai luar negeri. Mereka satu komando. Bukan hanya Timor Leste, Negara Cuba juga demikian, persatuan antara Che Guevara, Fidel Castro dan pendukungnya di dalam kota juga terjalin baik sehingga negara adi kuasa, Amerika Serikat berhasil mereka runtuhkan.

Jadi, bukan susah sebenarnya gampang sekali hanya karena kita yang tidak mau. Seandainya semua orang papua bersatu, saya jamin tinggal menunggu waktu saja kita akan berhasil merebut kembali kemerdekaan yang pernah berhasil Negara Indonesia hapuskan. Karena tidak ada cara atau jalan lain yang bisa kita tempuh selain bersatu.
Ingat persatuan ibarat jantung dalam organ tubuh manusia, tanpa jantung manusia tidak akan hidup, demikian juga persatuan, tanpa persatuan perjuangan kita akan sia-sia.

LAWAN
Setelah bersatu tidak ada pilihan lain selain lawan, karena hanya dengan perlawananlah kita akan mendapatkan sesuatu yang ingin kita raih. Kalau melihat jauh kebelakang, perlawanan sudah berlangsung lama sebelum Papua diintegerasikan ke Indonesia, namun selalu saja mengalami hambatan. Karena saat itu orang tua kita melakukan perlawanan sifatnya mempertahankan wilayahnya masing-masing (kampung/desa), kurang bersatu.

Sekitar tahun 1961, dimana tahun yang pernah Bangsa Papua menyatakan diri sebagai sebuah negara secara de jure dan de facto ke atas, perlawanan terus berlangsung tetapi sifatnya bukan mempertahankan wilayahnya masing-masing lagi melainkan umum, seluruh tanah papua. 

Dan itu berlangsung hingga detik ini dan akan berlangsung terus. Saya senang karena perlawanan yang pernah dilakukan oleh orang tua dulu masih kita lanjutkan sampai detik ini. Kalau dihitung jumlah korban akibat perlawanan yang pernah jatuh diatas tanah papua terlalu banyak, tidak bisa dijumlahkan. Bukan ratusan, ribuan, jutaan tapi sudah melebihi itu. 

Mari, kita jangan lagi mau jadi korban sia-sianya penjajahan, bangkit, bersatu dan lawan adalah solusi. Buang segala keegoisan yang ada, buka diri dan rendah hati lebih penting karena itu merupakan senjata paling ampuh yang mudah didapat. 

Yang belum bangkit mari bangkit, sadarlah bahwa kamu sedang dijajah. Lalu yang masih keras kepala atau mau menang sendiri STOP, karena itu bukan jalan keluar, banyak sekali korban yang sudah, sedang dan akan berjatuhan kalau mau menang sendiri.

Rapatkan barisan dan buat pergerakan baru, L A W A N ....................!!!!
(Amo)

Rekomendasi Untuk Anda × +
  1. sangat setujuh bro,............ buanglah keegoisan/ hindari egoisme kelompok, dorong semangat, dan perlu dipahami bahwa perjuangan butuh pengorbanan (tidak ada suatu kesuksesan tanpa ada pengorbanan)ayo teman-teman para pemuda pemudi "anda adalah penerus/pewaris ibu pertiwi" jangan pernah berpangku tangan melihat ibumu diperkosa tetapi mari "bangit, bersatu dan lawan" Papua pasti merdeka. Agus.R

    ReplyDelete
  2. bisax berkata MERDEKA...
    sebagai contoh liat Timor-timur menjadi timor leste sudah Merdeka tetapi rakyatx menderita, miskin, ditindas oleh pemerintahannya....
    jadi sebelum merdeka perpikirlah dengan baik2....
    bersyukurlah klo anda bersama INDONESIA.... semua masi d beri fasilitas cuma karna pejabatnya saja yg korupsi sehingga dana2 yg d berikan pemerintah Indonesia d makan sendiri dan perlu d ketahui pejabat2 itu adalah masyarakat papua asli bukan pendatang ( sebagai org pintar marahlah orang2 kalian tersebut yg korupsi uang rakyat papua....)
    jadi sekali lg perpikirlah yg terang jgn terprovokasi oleh orang2 lain.... perlu di ingat juga ANDA PINTAR KARNA INDONESIA sehingga anda bisa mengenal internet sehingga bisa menulis artikel2 yg dapat memprovokasi orang lain lewat internat..... Tanpa INDONESIA, PAPUA masi HUTAN BELANTARA...........

    ReplyDelete