Thursday, 7 June 2012

TOGEL, Penyakit yang diabaikan

User Waktu Tag
Send Email Send Email
keadaan masyarakat paniai di sore hari saat jual & beli togel
Lapangan terbang tempat mendaratnya pesawat adalah pusat markas perjudian togel, mulai pukul 2.30 siang sampai pukul 5.30 sore banyak orang yang selalu memadati lapangan tersebut. ada yang menjadi bandar dan ada juga yang menjadi pembeli.

Aparat pemerintah dalam hal ini, anggota DPRD Kabupaten Paniai, Bupati dan juga aparat keamanan tampak lamban mengambil kebijakan untuk menjaga stabilitas kesejahteraan rakyat.

Rupanya bukan hanya miras dan penyakit HIV AIDS yang ramai beredar dalam kehidupan masyarakat paniai belakangan ini, malahan perjudian pun telah menjadi pekerjaan sehari-hari.

Perjudian yang dimaksud adalah toto gelap atau yang biasa disingkat dengan togel. Perjuadian ini bukan baru di bumi paniai, sudah hampir menjelang 4-5 tahun bergulir dengan bebas tanpa dihalang oleh pihak yang berwajib.

Akibatnya dari itu banyak sekali masyarakat yang sudah malas bekerja, malas berpikir, malas melakukan sesuatu yang mendatangkan keuntungan dengan mencucurkan keringat. Mereka lebih pada yang namanya instant, datang sendiri tanpa bekerja.

Hari-hari dari pagi sampai malam pasti ada saja masyarakat yang duduk manis di rumah menghitung togel, beribu kesempatan emas dilewati Cuma-Cuma.

Ini merupakan persoalan besar dan bisa dikata ini adalah penyakit berbahaya yang lama-kelamaan akan menular bukan hanya generasi sekarang tapi juga ke generasi-generasi yang akan datang. pelajar, mahasiswa, pemuda/i, bapa-bapa dan ibu-ibu yang ada di paniai serta para aparat pemerintah dan keamanaan juga telah ikut terlibat.

Dengan melihat keterlibatan orang-orang yang punya kewenangan dalam mengambil dan memutuskan kebijakan, perjudian ini dipastikan akan berlanjut terus dan penyakit yang ada tentu akan menjadi kebal dalam kebiasaan hidup masyarakat.

Maka dari itu, pemerintah setempat jangan malas tahu dan jangan menutup diri dari tanggung jawabnya. Buat dan laksanakan sesuatu hal baru yang bisah merubah kebiasaan tidak baik itu kearah yang lebih baik. Karena cara yang sedang ada ini secara sadar atau tidak, telah membodohi dan merusak citra diri orang papua.

Beberapa putra daerah yang sudah lama di kota enarotali ketika ditemui, mereka merasa kecewa dengan pihak berwajib. Mereka bingung, mengapa sampai hal yang tidak baik itu dibiarkan begitu saja tanpa mengambil satu kebijakan.

Mereka beranggapan bahwa kalau dibiarkan terus jelas bahwa sengaja indonesia mau membodohi orang papua agar tetap tertinggal. Dan mereka menyadari bahwa ini merupakan sebuah bentuk penjajahan secara halus yang indonesia mau kembangkan.

Kemudian ada lagi yang berkata kita sesama papua juga jangan saling menjajah, saling membodohi dan saling malas tahu tetapi marilah kita saling tegur-menegur agar kita tetap jalan di jalan yang benar bersama-sama.

karena orang papua yang duduk instansi-instansi terkait yang punya kuasa untuk mengambil kebijakan selalu saja diam. Tidak tegas dan disiplin dalam memberantas segala kebodohan ini.

Kemudian, terkait dengan persoalan ini, seorang dosen yang mengajar di STIE Karel Gobay, Markus Tebai S. Sos ketika diajak berdiskusi beliau mengatakan tidak senang melihat pihak-pihak berwenang yang kelihatan malas tahu dan masa bodoh padahal menurut beliau ini tugas dan tanggung jawab yang harus diperhatikan karena mereka diangkat dan ditempatkan di kabupaten paniai untuk mengurus persoalan-persoalan kecil seperti ini.

Saya marah dan tidak senang sekali coba bayangkan, anggota DPRD sekarang rata-rata punya gelar sarjana tapi kenapa mereka terlihat seperti orang yang tidak sekolah, tidak bisa membuat PERDA untuk melarang hal-hal busuk itu. malahan mereka juga ikut terlibat, kami masyarakat yang mengangkat mereka menjadi bingung sekarang. Dan kami juga masih bertanya-tanya sebenarnya di kabupaten paniai ini ada anggota DRPD atau tidak? Sebab menjelang tiga tahun ini tidak ada sesuatu yang mereka buat untuk masyarakat paniai, jelas dosen yang mengajar mata kuliah sosiologi

Mantan ketua senat uncen ini menambahkan, lebih mengherankan lagi yang selalu mereka lakukan hanya pergi ke kantor hanya satu atau dua jam kemudian pulang, tidak jelas apa yang mereka buat di kantor. Jika begini terus kelakuan mereka saya yakin dalam dua tahun kedepan di kabupaten paniai banyak penyakit yang akan berdatangan selain tiga hal yang disebutkan diatas.

Jangan saya-saya tooo kalau memang tidak punya kwalitas dan kemampuan, karena memimpin orang banyak itu tidak segampang kita membalikkan telapak tangan. Ukur kemampuan dulu baru naik, katanya dengan tegas sambil menutup pembicaraan.



Rekomendasi Untuk Anda × +