Friday, 17 August 2012

Kado 17 Agustus bagi Orang Papua

User Waktu Tag
Send Email Send Email
Yogyakarta - Perayaan hari Kemerdekaan bagi setiap Bangsa merupakan suatu yang skaral. Setiap Bangsa pasti merayakan hari yang sangat bersejarah itu.

Seperti halnya Indonesia pada hari ini 17 Agustus 2012. Dimana Indonesia Merdeka pada 17 Agustus 1945 silam setelah penjajah Belanda mampu diusir dari tanah Indonesia dan kemerdekaan ini seperti tercantum dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945 “Atas Rahmat Tuhan Yang Maha Esa”.

Beranjak dari situ, ketika seluruh seantero Indonesia sedang disibukkan dengan segala bentuk serimonial upacara peringatan kemerdekaan Indonesia. Termasuk mengibarkan bendera disetiap rumah penduduk maupun pertokoan. Bahkan setiap perkantoran dihiasi oleh bendera Merah Putih. Setiap umbul-umbul yang dipasang tidak terlepas dari warna Merah dan Putih.

Beda halnya yang terjadi di Nabire-Papua, dari amatan seorang asal papua yang namanya Melki Dogopia, sampai menjelang peringatan 17 Agustus 2012, minat masyarakat Nabire mengibarkan bendera merah putih masih sangat minim. Hal ini bisa terlihat dari rumah dan pertokoan yang mayoritas tidak memasang bendera merah putih. Ada apa sebenarnya ini? Apakah Nasionalisme orang Papua terhadap Indonesia sudah luntur?.

Ini pantas dipertanyakan, pasalnya dari amatan dia beberapa hari lalu, ada intruksi dan diwajibkan langsung dari KAPOLRES Nabire untuk setiap rumah atau tokoh yang dihuni orang dan setiap instansi harus dihiasi dengan bendera merah putih.

Namun hal itu, tidak ditanggapi dan diindahkan serius oleh masyarakat papua seutuhya yang berada diseluruh pelosok wilayah Nabire. Dan berdasarkan itu juga, diyakini diseluruh Pulau Papua dari Sorong sampai Samarai pasti bersikap demikian.

Bukan hanya Melki, ada seorang mantan mahasiswa asal papua yang pernah kuliah di Yogyakarta dan sekarang telah menetap di Kota Nabire, namanya Yeremias Degei juga menulis lewat akun facebooknya, kemarin sore mengatakan bahwa “Beberapa hari ini sebagian orang Indonesia menaikan bendera merah putih di depan rumhanya. Termasuk juga orang Indonesia yang ada di Papua. Keliling punya keliling, saya tidak menemukan orang asli Papua menaikan bendera merah putih di depan ruamhnya. Terlihat hanya beberapa rumah pejabat yang menaikan bendera. Tidak tahu, tanda apa ya?”

Ini membuktikan sekali bahwa tanah papua dan orangnya yang dianggap indonesia sebagai bagian dari wilayahnya ini, menilai 17 Agustus yang dianggap sebagai hari bersejarah nilainya sama dengan hari kemarin atau dua hari yang lalu, artinya tidak memiliki nilai apa-apa. Sebab menurut seantero rakyat papua tidak ada keuntungan apa-apa yang orang papua dapat atau nikmati dari 17 Agustus ini semenjak Bangsa Indonesia ada dan berdiri sebagai sebuah negara yang utuh.

Setahu orang papua, kado istimewa 17 Agustus yang indonesia berikan sejak dulu hingga kini adalah pembunuhan, pemerkosaan, pemenjaraan, dan lain-lainnya serta adanya nilai kemiskinan yang amat tinggi kemudian ditambah lagi banyaknya penyakit mematikan yang disebar luas oleh indonesia diseluruh tanah papua, misalnya seperti penyakit AIDS dan miras.

Akibat dari itulah, rasa simpatik orang papua untuk merayakan hari ini tentu tidak ada. Jangankan didalam rumah, dihalaman rumah saja pasti tidak ada atribut negara berupa bendera yang dipajang.

Apakah ini tanda bahwa orang papua tidak mau bersama-sama dengan indonesia? ataukah orang papua beranggapan bahwa, itu kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia sedangkan kemerdekaan bagi Bangsa Papua Barat juga ada yakni 1 Desember mendatang.

Kado busuk atau kado tidak sehat yang selalu dari tahun ke tahun dilimpahkan kepada orang papua membuat indonesia gagal mengindonesia orang papua. Coba lihat, menjelang 17 agustus saja banyak sekali kado-kado yang dikasih indonesia. Yang mana kado-kado itu tidak sesuai dengan perikemanusian dan perikeadilaan, seperti yang dikutib dalam UUD 1945.

Seperti yang ditulis oleh KONTRAS (Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban) dalam webnya menjelang 17 agustus , Indonesia melalui aparat andalannya TNI berhasil mencacat rekor tertinggi membuat peleggaran HAM. (Sumber: klik ini).

Khusus untuk Wilayah Papua tekait pelanggaran HAM, mulai dari bulan Januari sampai Juni tahun ini KONTRAS berhasil mencatat kasus-kasus tersebut secara detail, untuk lebih jelasnya bisa klik ini.

Namun dari semua kado 17 Agustus buat orang papua yang paling menghebohkan adalah dengan terbunuhnya seorang revolusioner sejati Bangsa Papua Barat, Musa Mako Tabuni beberapa bulan lalu itu.

Ini kado luar biasa dan memang yang paling teristimewa indonesai kasih menjelang hari besar mereka. Bukannya berpikir yang positif untuk menyambut hari besar malahan bertingkah seperti binatang buas yang kelaparan.

Kami Bangsa Papua tahu, masih banyak lagi kado yang akan kalian berikan nanti. Tetapi perlu diingat bahwa melalui hari bersejarah kalian pada hari ini, semangat nasionalisme kami sebagai satu negara yang pernah merdeka dulu pun sedang berapi-api.
Kemerdekaan itu akan tetap kami rebut walaupun kami akan dihadiahi berbagai macam KADO.

(amo, seorang anak sampah dari papua)
Rekomendasi Untuk Anda × +