Monday, 20 May 2013

Bupati Nabire Turun Tangan Sendiri Akibat Anak Buahnya "mati kerja"

User Waktu Tag
Send Email Send Email
BUPATI Membersihkan Pasar Karang Tumaritis
Cuaca hari itu dari pagi hingga sore terlihat cerah. Semua masyarakat terlihat sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang ke Kantor, ke Kebin, Pasar, Sekolah, Kampus dan ke tempat umum lainnya.

Sayapun demikian, melihat cuaca yang cukup bersahabat itu, saya naiki sebuah motor milik kaka laki-laki yang sebelumnya telah dititpkan pada saya, sekedar jalan-jalan.

Keluar dari rumah, saya melewati Gereja Efata dan terus lurus ke Pasar Karang Tumaritis. Pasar yang tak jauh dari rumah, tempat saya tinggal.

Sesampai tepat didepan muka pasar, saya melihat ada sekumpulan orang yang bertumpuk-tumpuk seperti sedang menonton sesuatu disepanjang ruko-ruko dan kios-kios yang dibangun berjejer dengan rapi.

Penasaran yang tinggi, saya terus amati dan melihat terus kearah orang banyak itu. namun sesuatu yang sedang dipertontonkan didalam kerumunan tersebut masih belum keluar juga. Motor saya matikan dan mencoba melangkah secara perlahan mendekati kerumunan orang banyak itu.

Rupanya, dengan usaha yang keras setelah menerobos tembok manusia-manusia, yang sedang dipertontonkan oleh masyarakat nabire adalah orang nomor satu mereka di wilayahnya, Bupati Isaias Douw.

Dengan memakai celana training dan baju kemeja yang sesuai dengan bodinya, bupati dalam ruko-ruko tersebut sedang belanja alat-alat kebersihan untuk membersihkan pasar karang yang terlalu kotor dan bau.

Alat-alat yang dibeli misalnya seperti sapu lidi, garpu sampah, sendok sampah dan lainnya. Kemudian alat-alat itu ia bagikan satu per satu ke anggota TNI, polisi, POL PP dan beberapa pegawai yang hadir disitu menemani beliau.

Tanpa berbicara banyak, bupati duluan langsung turun tangan menyapu sudut jalan dan trotoar yang tertumpuk dengan sampah. Melihat bupati bertindak demikian, semua instansi ikut membersihkan semua lokasi pasar karang. Baik got/saluran, jalan, halaman dalam pasar dan tempat-tempat sampah lainnya yang sudah tertumpuk berminggu-minggu, yang  tingginya sama hampir dengan tinggi manusia.

Sekitar 1 jam lebih bekerja, bupati dan anak buahnya bubar dan meninggalkan pasar. Karena kerja yang bagus, maka hari itu pasar terlihat cerah. yang sebelumnya bau busuk dan amis, setelah dibersihkan bau itu tak ada lagi.

Ini sebuah acungan jempol yang saya secara pribadi berikan kepada bapak bupati, karena beliau telah memberi contoh kepada masyarakat nabire secara umum bahwa harus bisah dan mampu menjaga kebersihan dimana saja, apalagi di pasar-pasar yang rawan sampah.

Dan sepertinya beliau adalah bupati pertama yang pernah saya lihat secara langsung turun ke lapangan untuk membersihan sampah-sampah.

Namun dibalik kerja bupati yang patut diangkat jempol ini, ada beberapa hal yang saya rasa perlu bapak bupati harus intropeksi diri:
- Dimanakah kinerja instansi yang punya tugas tersebut?
- Mengapa instansi tersebut bisah mati alias tidak menjalankan tugas dan tanggung jawabnya?
- Bapak bupati itu orang besar, harus jaga wibawa dan citra diri sebagai seorang bupati. Jadi dimanakah control dan pengawasan dari bapak kepada anak-anak buahnya?
- Saat pelantikan beberapa bulan lalu, kata bapak pada saat itu, akan bersikap tegas kepada setiap instansi yang tidak bekerja dengan serius tapi mana buktinya? masa beli alat untuk membersihkan sampah saja bapak sendiri yang beli.

Harapan saya, semoga kepala-kepala dinas serta jajaran pemerintah lainny yang sudah ditunjuk oleh bapak bupati, agar dapat menjalankan tugas, fungsi dan tanggung jawab kalian.

Jangan kalian korban masyarakat dan mempermalukan beliau. ditunjuk bukan untuk "dilayani melainkan melayani".

[amo]

Rekomendasi Untuk Anda × +