Papua Dalam Pertarungan Agama : Apakah Ada Jalan Yang Lebih Bijak

- 10:42:00
advertise here

"Dulu Missionaris hanya punya Injil kami yang punya tanah. Kini mereka yang punya Tanah kami yang punya Injil". ISMAIL ASSO ( dalam Postingan FB)
resolusi Konlfik
Konflik Agama [ image sources]

***

Selama ini menurut saya, isu-isu yang dikaitan dengan Tanah  Papua adalah isu tentang kemiskinan, pendidikan yang sangat  tertinggal, lalu beberapa isu yang sering muncul ke Permukaan  adalah isu tentang konflik agraria, misalnya MIFFE di Merauke. Ada juga perebutan tanah adat di suku Yarisiam Nabire. Bukan hal yang baru, Papua adalah tanah yang luas  seluas orang-orang menjual isu murahan untuk memungut pundi-pundi rupiah. 

Masih tentang isu-isu murahan. Akhir-akhir ini gejolak di Papua kian panas. Isunya sebenarnya bukan tentang Papua Merdeka, atau pun gerakan masa menutup pertambangan raksasa kelas dunia, PT. Freeport. Bukan juga tetntang pemberontakan masa untuk membatalkan ribuan rencana pemekaran di Papua, pun juga bukan tentang isu penutupan program transmigrasi besar-besaran di Papua, kamudian bukan juga tentang isu evaluasi penanganan gizi buruk di kabupaten Asmat. Ini isu tentang kepercayaan agama.  Sebenarnya agak aneh, jika orang-orang Papua harus saling bermusuhan lantaran berbeda dalam mengimani suatu kepercayaan. Rasanya Papua benar-benar goyah, (katanya) Sebab Papua goyah  adalah karena isu tentang penistaan agama.

Ternyata ada yang unik. Pikir saya penistaan terhadap agama hanya terjadi di Jakarta ketika pasukan 212 menggempur habis-habisan sahabat akrab-nya Djarod: Mr Ahok. Rasanya Luar biasa seorang Ahok berhasil menggoyang Indonesia hanya dengan cuplikan video beberapa menit. Ahok seakan menjadi seorang pelatih bola kaki. Ia  membagikan masyarakat Indonesia dari Sabang hingga ke  Merauke ke dalam kubuh-kubuh yang berbedah. lantas kemudian mereka dibiarkan beraduh kekuatan hingga puncaknya adalah mirip terulang kembali perang salib.  Kasus ini mirip seperti  yang terjadi di Papua saat ini, bahwasanya masyarakat papua terbagi dalam kubu-kubu yang pro dan kontra, termasuk para kaum inteleknya. 

***
Adalah Ustaz Fadlan Garamatan. Beliau seakan menjelma menjadi Ahoknya versi orang Papua. Jelas-jelas dia dinilai telah menistakan Agama lain di Tanah Papua. Jika di videonya (yang banyak bertebaran di media sosial itu) ditonton  secara cermat maka dakwah nya tersebut tentu memancing kemarahan orang-orang Papua. Ustaz Fadlan sangat bersemangat dalam berdakwah, namun sayangnya masyarakat Papua menilai bahwa apa yang disampaikan Ustaz Fadlan Garamatan adalah kebohongan. Ia lalu di laporkan ke pihak berwajib oleh masyarakat yang mengatasnamakan gerakan "Oekumene" di Tanah Papua. 

Dalam tulisan ini,  rasanya saya tidak akan menjabarkan apa isi dakwah yang dinilai merusak emosi masyarakat Papua, yang jelas bahwa video berdurasi kurang lebih 4.11 menit tersebut jelas-jelas merusak mental dan merendakan orang-orang Papua. "Isi ceramah Ustaz Fadlan dalam video itu bohong, menghina dan menghasut serta merendahkan martabat orang," ujar Yulianto yang adalah pengacara dari pelapor (sesuai kutipan di_viva.co.id).

Pertanyaannya adalah siapakah Ustaz Fadlan Garamatan. 
Uztad Fadlan Lahir dari keluarga Muslim, 17 Mei 1969 di Patipi, Fak-fak dengan nama lengkap Muhammad Zaaf Fadlan Rabbani Al-Garamatan. Semuanya bermula ketika dia merantau keluar Papua. Anak ketiga dari tujuh bersaudara ini lebih  memilih jalan berdakwah setelah banyak hal Ia pelajari ketika menempu pendidikan dan berorganisasi di Sulawesi. Lalu kemudia Ia lulus sebagai seorang sarjana ekonomi. Dan sebagai Putra Papua Ia lebih memilih berdakwah di Papua. Ia dikenal sebagai sosok yang fokus, sehingga  Ia pun kemudian di Juluki sebagai Kuda Hitam Sunna dari Timur. 

Pembohongan oleh muslim di Papua
Ustad Fadhlan [image sources]
APAKAH ADA JALAN YANG LEBIH BIJAK  ?

Ustad Fadlan di posisikan sebagai tokoh yang antagonis ketika isu penistaan tentang agama di Papua ini mencuat ke publik. Lalu diikuti oleh terbentuknya kelompok-kelompok dalam tatanan masyarkaat. Tak mau kalah, kaum intelek kita (orang Papua) pun ikut berloma-lomba memposikian diri pada pihak yang mereka rasa benar. Pada tahapan ini saya hanya ingin melihat Pak Ustad Fadlan sebagai seorang putra Papua yang sama seperti saya, yang ke-Papuaannya harus kita lindungi. 

Dalam beberapa diskusi dengan sahabat-sahabat saya, saya ngotot bahwa menghakimi Ustad Fadlan bukanlah solusi yang terbaik, apalagi harus diserbu ramai-ramai. Rasanya jelas yang  harus kita pahami bahwa secara  ideologi orang-orang papua lebih mengutamakan prinsip kekeluargaan. Hal ini jika dibandingan dengan suku bangsa lain diluar sana.

Harapan saya  janganlah masyarakat  Papua mencontohi gerakan  212 beberapa waktu lalu di Jakarta, karena cara semacam itu tidak menjamin lahirnya suatu  kedamaian. Coba lihat beberapa daerah di jakarta dan sekitarnya pasca Ahok dipenjarakan, apakah toleransi agama lahir kembali ? Rasanya sejauh ini justrus cara semacam ini memberikan gap  yang lebih parah. Lihat saja, hingga saat ini gesekan berbau agama masih terus subur, bahkan lebih subur. 

Saya hanya ingin menanyakan bahwa: Mengapa gerakan masyarakat Papua tidak difokuskan pada hal-hal yang lebih urgen. Misalnya mengkritik pemerintah karena hingga saat ini Papua masih menjadi daerah termiskin. Mengapa kita tidak semua mengahadap Pemerintah, ketika Pemerintah  membiarkan transmigrasi memperkosa tanah kita yang oleh pemerintah dianggap sebagai lahan tidur alias tak bertuan. Mengapa kita justru diam saja ketika satu demi satu orang Papua dihilangkan dari bumi Cendrawasih lalu kita jusrtu terbakar api amarah dan ingin menghakimi saudara kita sendiri. 

Ada persoalan  lain yang lebih penting untuk kita kawal bersama. Semoga isu agama tidak memecah persatuan Bangsa Papua. 
Bagi Ku Papua  Jiwa dan Raga.

"Dulu Missionaris hanya punya Injil kami yang punya tanah. Kini mereka yang punya Tanah kami yang punya Injil". ISMAIL ASSO ( dalam Postingan FB)



Ricky
Bogor, 29 Maret 2018
Advertisement advertise here

4 komentar

avatar

Dari sisi manusia dan politik mengenai masalah ini saya mendukung pandangan ini. Kalau dari sisi agama saya lebih sepakat jika kita rapatkan barisan, kristen dan muslim, untuk meluruskan sejarah versi muslim dan versi kristen.

Thanx untuk pandangannya, Bung.

avatar

Ini bukan lagi seni politik tetapi penghianatan. Adili ini manusia sesuai uu yang ada.

avatar

kalau saya boleh saran; pemuka agama kalau pada saat berbicara agama kepada umatnya ya agamanya saja, jangan bahas agama orang lain. terimkasih

avatar

semoga jalan keluar segera didapatkan


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search